RSS

Category Archives: Saudara Perantau

Keluarga dalam Sebuah Kekerabatan

Dalam sebuah novel yang menginspirasikan sebuah pengalaman hidup, tersurat sebuah syair dari Imam Syafi’i. Dalam syair tersebut dijelaskan untuk menambah pengalaman hidup dan ilmu, seorang insan seharusnya hijrah dari kampung halaman, atau mungkin bahasa yang sering terdengar di telinga adalah merantau. Dengan merantau, ilmu yang kita dapat akan bertambah, dan pengalaman hidup pun tentu akan semakin mendewasakan kehidupan kita. Syair itulah yang lantas mencoba saya maknai dalam kehidupan. Jujur saja, syair itu baru terbaca ketika saya sudah berada di tanah rantau, walaupun masih di Pulau Jawa, paling tidak kebudayaan yang ada disini sudah jauh berbeda dari kampung halaman saya. Sehingga adaptasi mau tidak mau harus dilakukan.

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan orang lain, begitu juga ketika kita berada jauh dari kampung halaman. Yang pertama kita cari pastilah kerabat yang mampu diajak berbagi. Dan dari hubungan kerabat itulah akan terjalin sebuah hubungan dekat yang bisa juga kita sebut keluarga. Keluarga tidak harus selalu terjadi akibat hubungan darah, bahkan hubungan kakak adik pun bisa terjalin karena sebuah hubungan kekerabatan 🙂

Tanah Tangerang, tanah dimana saya memulai untuk membentuk sebuah keluarga baru. Keluarga yang saya harapkan selalu ada saat saya sedih, senang, sakit, dan saat saya susah memahami materi ujian 😀 Keluarga  ini terbentuk karena beraneka ragamnya watak dan budaya kami. Dengan beraneka ragamnya anggota keluarga, sebenarnya tidak jarang juga kami berselisih pendapat. Namun kami saling memahami perbedaan itu sebagai rahmat Ilahi, jadi justru perbedaan itu semakin mempersatukan kami. Tidak ada yang istimewa dari fisik mereka, tapi keberadaan mereka dalam tanah rantau ini begitu berarti. Wajar saja ketika seorang manusia berada dalam titik jenuh, yang manusia harapkan pasti ‘uluran tangan’ TuhanNya dan nasehat terbaik dari kerabatnya. Disinilah peran mereka begitu berarti dalam kehidupan yang jauh dari kampung halaman.

Jangan sampai tali keluarga yang terjalin ini terputus. Jarak bukan alasan untuk memutus tali silaturahmi. Hilangkan keegoisan, belajarlah mengerti orang di sekitar kita dan ikhlaskan hati untuk saling memaafkan, maka tali ini akan terjalin dimanapun kita berada, saudaraku….

Dedicated for : 1G-AKUNTANSI; 2P-AKUNTANSI; 3D-AKUNTANSI; FKMT STAN; PONDOK HJ.ANAH (POHA)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 3, 2011 in Saudara Perantau

 

Salah Sedekah (2)

Lolos dari petugas dengan mengosongkan isi dompet membuat kami sedikit emosi. Namun kami tak pernah bosan melepas canda melihat hal hal ganjil yang dilakukan petugas. Dengan kondisi kecewa bercampur tawa akhirnya kami sampai di stasiun Senen dan alhamdulillah kami berhasil mendapatkan 4 tiket kereta ekonomi tujuan Semarang.

Sekarang fokus kami segera kembali kekosan dan bersiap untuk berangkat lagi ke Senen ba’da magrib. Mengingat saya belum sempat packing dan kereta berangkat pukul 21.30 , saya pun menambah kecepatan motor tua. Bukan Jakarta bila tidak macet, polusi udara dan polusi suara tak pernah lepas dari jalanan kota Jakarta.

Ketika sudah sampai di Jakarta bagian selatan, kami sudah masuk waktu magrib. Namun bila perjalanan lancar, paling tidak sebelum isya kami sudah sampai kosan. Yang namanya kehendak manusia, tentu saja berbeda dengan kehendak Tuhan, kita boleh berkehendak namun yang terjadi tetaplah kehendak Tuhan. 

Dengan perkiraan yang mungkin 15 menit sudah sampai di tempat kosan. Tanpa disadari motor tua yang saya kendarai bergoyang, kami sempat mengira goyangan itu hanya karena sebuah polisi tidur. Namun, ketika lalulintas sudah lancar, goyangan motor semakin kencang, dan sudah diduga ban belakang kami bocor (-.-“) Mengingat waktu yang sudah mepet, sebenarnya saya hanya meminta untuk tambah angin, tapi sekali lagi kehendak saya mentah begitu saja. Pentil dari ban belakang motor ternyata sudah copot, sehingga harus dipastikan untuk mengganti ban dalam T.T Keluarlah selembar berwarna hijau, ungu dan coklat dari dalam dompet yang sudah tipis. Kali ini saya tidak lagi bersedekah ke petugas, tapi kepada seorang tambal ban -.-”

Perjalanan terus berlanjut dengan semakin macetnya kota jakarta. Dengan padatnya lalu lintas, hujan pun ikut meramaikan suasana hati kami yang pilu. Entah, hujan bermaksud ikut menangis karena keadaan kami atau mungkin hujan justru tertawa terbahak bahak sampai airnya turun membasahi kami. Sambil kehujanan otak kami terus berpikir agar lepas dari kemacetan ini, kami pun mencari sebuah jalan pintas yang biasanya memang selalu lancar dan alternatif yang paling tepat. Namun, perkiraan tak selamanya benar, jalan alternatif yang kami anggap cepat itu, justru diisi oleh pasar dengan mobil pick up macet di depannya T.T Otak kami sudah mampet untuk mencari alternatif lain, kuncinya hanya sabar dan merenungi nasib. Saat itu kami baru sampai d kosan sekitar pukul 19.00 dan terpaksa harus patungan taksi agar tidak ketinggalan kereta.

Manusia tidak pernah tahu kehendak TuhanNya. Manusia hanya perwujudan seorang hamba. Sebagai hamba yang baik, kuncinya adalah sabar dan bersyukur. Sabar ketika Allah memberikan musibah dan bersyukur ketika Allah memberikan nikmat 🙂

 
 

Keluarga Baru yang Harus Pulang Dulu

Hidup dalam sebuah lingkungan dan budaya baru membuat setiap orang dipaksa untuk beradaptasi. Hal itu yang coba saya lakukan setelah tamat Sekolah Menengah. Setelah hidup hanya beberapa minggu di surabaya, perjalanan hidup saya pun harus berlanjut ke sebuah kota di bagian barat pulau Jawa, Tangerang. Ya ini pilihan saya, mengingat sebagai anak sulung saya tidak ingin membebani kedua orang tua terlalu lama dan hanya di sekolah ini saya bisa mendapatkan kuliah gratis tanpa dipungut biaya. Mengingat susahnya mencari sekolah tiap saya lulus, saya pun memutuskan untuk mencari sebuah sekolah yang sudah menjamin masa depan saya tanpa merepotkan kedua orang tua. Begitu masuk kelas pertama yang saya tanamkan tentu sebuah keluarga baru. keluarga yang bukan tercipta karena hubungan darah namun keluarga yang tercipta karena sebuah kekerabatan untuk saling berbagi kesenangan dan kesedihan.

Tentu untuk menciptakan sebuah keluarga tidak mungkin secara instan tercipta. Butuh waktu dan proses untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Sebuah ejekan mungkin terkadang menyakitkan, tapi ketika anda sudah menganggapnya sebuah sarana untuk menjalin keakraban, maka ejekan hanya sebatas masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri 😀

Ketika keluarga itu sudah terbentuk dengan erat, maka anda pun tak pernah berharap untuk kehilangan keluarga tersebut.

Namun bagaimana bila Tuhan berkehendak lain?? Bagaimana bila sebuah pelanggaran aturan membuat terpisahnya jarak anda dengan keluarga??

G ada yang perlu disalahkan , sekolah ini sudah punya aturan, dan yang melanggar aturan diharuskan pulang lebih awal. Kami harus terpisah karena ada saudara kami melanggar aturan kampus. Namun saya yakin, Allah punya rencana buat mereka. Allah tau mana yang terbaik buat hambaNya. Semoga selalu dimudahkan untuk mencapai ridloNya, saudaraku……

 
2 Comments

Posted by on December 2, 2011 in Saudara Perantau

 

Salah Sedekah (1)

Hampir setiap orang pasti pernah mengalami hal ini. Entah itu karena kecerobohanya atau mungkin memang si penerima sedang mencari tambahan penghidupan untuk keluarganya 😀

Sebagai seorang mahasiswa yang haus akan petualangan, wajar kalau waktu liburan selalu saya habiskan untuk melancong. Mumpung masih bujang serta fisik dan mental masih mendukung 😀  Namun liburan kali ini benar benar mendadak, karena baru H-1 saya merencanakan liburan ke ibukota jawa tengah, Semarang. Perjalanan pun dimulai ketika saya harus terburu buru memburu tiket kereta yang harus dipesan terlebih dahulu. Dalam perjalanan ke stasiun saya ditemani teman saya, sebut saja “Ambon”.

Perjalanan dari Bintaro (kampus STAN)- Stasiun Senen memang cukup jauh. Dan saat sudah sampai di sebuah jalan protokol, sekitar 2 lampu merah sebelum monas.

Saya : “Mbon, jarang jarang lo kita bisa jalan nyampek kecepatan 100 km/jam di jakarta, lihat nih spidometer motor saya 😀 ”

Ambon: ” he’eh kuh, tapi km tau g kalo kita ini di jalur yang salah? ini jalur mobil lhoo..”

Saya : “Tau mbon, tapi klo g gini kita kehabisan tiket ke semarang, lumayan kan sekalian jadi raja jalanan 😀 ”

Ambon: “hahaha”

Tanpa disadari seseorang dengan pakaian dinas dengan rompi hijau dari sebuah pos di lampu merah alias polisi, nongol keluar sambil melihat ke arah motor kami. Karena waktu itu juga sudah lampu merah, saya dan teman saya pun berhenti.

Saya : “Mbon, tuh polisi pasti bentar lag nyamberin kita :o”

Ambon : “Enggak kuh. cuek aja jangan diliet ”

Tapi saya g mau mengalihkan pandangan dan tetap melihat ke arah polisi itu.

Polisi 1 : Mas, bisa lihat STNK dn SIM nya? Tolong minggir ke pos dulu

Saya : eh, iya pak boleh -.-” (Keringat mulai mengucur)

Sesampainya di pos polisi. Tampak seorang polisi yang cuek yang sedang memaenkan permainan poker online yang biasa kita mainkan di facebook -.-” Namun ada polisi lain yang mendatangi kami, anggap saja polisi 2.

Polisi 2 : Selamat siang mas, ini mana yang namanya mas kukuh?

Saya : Saya pak

Polisi 2 : “Kamu tau g mas, ini jalan protokol dan jalan ini peraturan lalu lintasnya lebih ketat daripada jalan tol, jalan yang km lewatin itu tadi jalan buat roda empat bukan buat roda dua”

saya : “Iya pak, maaf saya buru buru ngejar tiket di stasiun senen buat pulang kampung ke semarang, waktu udah mepet soalnya, langsung aja deh pak kita harus bayar dendanya berapa”

Polisi2 : “oh jadi gitu, tapi kita g bisa langsung denda, km harus ikut sidang 2 minggu lagi, bisa?”

saya : yah kita sibuk kuliah pak, jadi g sempat dateng sidang, langsung denda aja deh

polisi 2: ” Km kuliah dmana sih? Klo denda dendanya 2,5 alias 250 ribu”

Saya dan Ambon hanya bisa menelan ludah mengingat uang yang kami bawa hanya uang pas untuk membeli tiket kereta. Ambon pun saya suruh untuk menyelinapkan uang 10o.000 di dompetnya agar tak ketahuan polisi.

Saya : “Yaudah gni aja deh pak, kami kan masih mahasiswa ini deh duit sedompet saya kasih bapak smua”

Mengeluarkan uang yang hanya sebesar 45 ribu dan memaksanya untuk menerima 😀

Polisi 2 : ” ini berapa?? masih kurang ini, masukin dulu duitnya uda masukin, ga enak tuh dilihat orang”

Saya : ayolah pak saya kan masih mahasiswa 😦

Polisi 2 : “yauda sini duduk dulu, ini prosedurnya udah gni mas, yauda deh saya kurangi gocap ( 50 ribu)

Saya dan Ambon yang salah mendengar, saya pikir si polisi meluluh dan mau hanya diberi 50 ribu, Ambon segera merogoh uang di dompetnyauntuk menggenapkan uang jadi 50 ribu.

Saya : ” nih pak, udah pas 50 ribu, mana stnk dan SIM saya?”

Polisi 2 : ” Loh kan saya bilangnya dikurangin gocap, bukan dikasih gocap???”

Saya dan Ambon sambil menahan malu masih terus memohon agar denda tetap 50 ribu dan kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan dengan surat lengkap. Namun usaha memelas kami pun berhasil bahkan kami mendapat ucapan terima kasih dan semoga sukses dari pihak petugas -.-”

Saya anggap saja pemberian itu sebagai sedekah buat petugas, namun perjalanan selanjutnya jg tidak semudah itu…..

 
 

Kesan Pertama Tentir Begitu Menggoda

Seperti kata orang, untuk memulai sesuatu yang bukan sebuah kesenangan memang sangat sulit bahkan rasa malas yang menyelimuti membuat niat yang sudah tertata dalam hati menjadi batal 😀

Itulah yang sering terjadi dalam diri saya, namun sore ini saya ingin membuatnya berbeda, memulai sesuatu yang bukan kesenangan saya dengan benar benar niat dan sedikit paksaan :p Sore ini menjelang Ujian Tengah Semester Advance Accounting, temen temen sekelas bersepakat untuk tentir atau bisa dibilang belajar bersama dengan dipimpin oleh beberapa teman yang lebih pandai dan mengerti tentang bidangnya. Tentir itulah yang selalu membuat saya malas, malas tentir bukan berarti saya pinter atau mumpuni di bidang tersebut, banyak faktor yang membuat saya tidak pernah mengikuti tentir selama 2 tahun kuliah di STAN. Tapi sebenarnya faktor yang membuat saya tidak pernah tentir karena faktor ‘malas’ :p Sehingga ketika ujian teman teman sudah mulai banyak latihan soal dari tentir saya masih hampa dengan materi dan latihan soal 😀 , yaah terpaksa solusi terkahirnya saya ‘menyeret’ teman saya yang pandai untuk memprivat saya 😀

Akhirnya tergeraklah hati saya untuk sekali sekali ikut tentir, dan tentir kali ini benar benar diniatkan dan berhasil saya laksanakan 😀 Setiap hal yang pertama kita lakukan tentu akan memberikan kesan, begitu juga dengan tentir ini, di bawah pohon yang rindang dan sinar matahari yang ikut menyelinap masuk, saya dan teman teman sibuk menghadap soal soal latihan. Dengan pikiran yang masih kosong tentu saya tidak langsung beranjak menghadapi soal soal, saya masih bersantai dengan tiduran di tikar sambil utak atik handphone 😀

Namun ketika teman saya yang pandai sudah mulai mengerjakan soal, saya langsung bangun dan duduk mendekat untuk mendapatkan pencerahan 😀 Namanya otak masih hampa, tiap ngerjain soal pun saya selalu tanya macam macam, maklum saja ya sudah tahu besok ujian, tapi kemaren saya malah baru nobar bersama teman teman juventini, jadi materi materi ujian masih tertata rapi 😀 Perlahan tapi pasti, saya mencoba mengingat kata kata dosen di kelas dan mencoba pelan pelan mengerti penjelasan teman saya yang pintar. Asalkan niat dan sungguh sungguh ternyata Allah memberikan janjiNya, sedikit demi sedikit materi untuk ujian besok mulai tergambarkan, yaah walaupun mungkin cuman gambar corat coret minimal sudah ada gambar lah buat ngisi besok 😀 (Alhamdulillah yaaa…)

Minimal pengalaman tentir pertama sudah dapat sedikit manfaat, Agar manfaat itu semakin mengalir dan bertambah, kita pun harus pandai pandai mensyukuri dan berikhtiar lebih agar sesuai dengan kehendak kita. Namun apapun kehendak kita, yang terjadi hanyalah kehendakNya, ikhtiar, doa dan jangan pernah lupa untuk pasrah dan ikhlaskan hasil hanya kepadaNya :))

 
4 Comments

Posted by on November 27, 2011 in Saudara Perantau

 

Kekonyolan di Dapur dan Kamar Mandi Perantauan

Mencuci piring, membuka kran air, memasang lampu… Ahh, apadeh itu? itu beberapa hal-hal kecil yang ngga ada artinya di kehidupan kita, lakukan lalu lupakan…
Tapi bagaimana bila keadaannya tak ada seorangpun yang peduli dan dengan sukarela melakukannya? Lalu siapakah yang akan melakukannya? Lalu apakah jika semua itu ditinggal begitu saja, keadaan akan jadi lebih baik?

Keadaan menjadi berbeda ketika kita jauh dari orang tua. Di rumah biasanya orang tua yang mengurus semua kebutuhan rumah. Di sini di perantauan ini, kita harus mandiri. Bergerak sendiri!

Di rumah kost

Ketika sendok, piring, mangkok serta barang-barang yang kita butuhkan ternyata kotor. Tergeletak tak berdaya di wastafel. Biasanya kita akan mencari siapa orang yang telah memakainya untuk mencucikannya. Bukankah itu hal yang konyol? Lakukan sedikit perubahan. Entah itu bekas siapa, cuci semuanya tanpa pilih-pilih sampai bersih. Entah di rumah ada pembantu, setidaknya kita membiasakan diri melakukan semua itu sendiri. Kita tak tahu kapan lagi kita bisa melakukannya lagi.

Selalu ketika di rumah dulu, ayah bilang untuk membuka kran air ketika saya sedang memakai kamar mandi. Pastikan selalu penuh ketika kita usai memakainya. Dengan begitu orang lain yang memakainya setelah kita siap menggunakan tanpa harus dia mengisi bak air dulu. Pernah ketika saya ditinggal ayah ibu ke luar kota, beliau mengatakan,”Pastikan bak kamar mandi selalu penuh, itu akan mendatangkan rezeki”. Bukan bermaksud menyekutukan Allah, tapi secara logika itu nyambung kok.

Dan saya pun mengaplikasikannya di rumah kost. Meskipun berulang kali ketika saya masuk kamar mandi, air di bak selalu habis, entah siapa yang telah menghabiskannya, saya tetap mengisinya dengan ‘hanya’ membuka kran. Pokoknya setiap keluar air di bak harus penuh.

Bukankah itu hal yang konyol?

Tiba-tiba lampu kamar mandi  mati. Anak-anak sekosan pun heboh tak terkendali. Sampai dua hari tak ada perubahan. Terpaksa selama itu kami menggunakan kamar mandi dalam aura kegelapan. Hati kecil seseorang pun akhirnya tergerak. Dia mengambil lampu cadangan di kamarnya dan memasangnya sendiri. Setelah itu anak yang lain bisa memakai kamar mandi seperti biasa. Tanpa tahu, siapa yang telah memasangnya. Tanpa peduli itu pakai lampu siapa. Padahal kamar mandi itu untuk umum satu kostan. Biasanya harus patungan dulu buat beli lampu. Kali ini tidak. Bukankah itu hal yang konyol?

Sebenarnya itu hal-hal kecil banget. Karena kecilnya itu banyak orang yang tak peduli dan tak mau tahu siapa yang melakukannya. Anggap itu semua ladang amal. Bukankah jika kita beramal lebih baik secara diam-diam? Setuju?

 

Note:

Terima kasih buat mbah kukuh yang membolehkan cucunya menulis di blog barunya… xD
Maklum saja artikel ini diluar tema blog saya jadi numpang boleh kan mbah?hehe

Oia, maaf kalo artikelnya kurang mantap seperti punya embah. Dimaklumi sajalah… fufufu *maksa
Saya kagum lo sama mbah yang punya jiwa menulis yang kuat sampai-sampai lahir deh blog ini. Alhamdulillah yah..
Semoga blog ini bisa tepat sasaran dan bermanfaat seperti keinginan embah semula. Amin -> Doa seorang cucu yang jahil…hehehe

by: http://nurulkucingkelinci.wordpress.com/

 
5 Comments

Posted by on November 27, 2011 in Saudara Perantau