RSS

Category Archives: Pegangan Hidup

Rezeki itu….

Rezeki itu tidak bisa ditiru

Walaupun sama yang kita usahakan

Walaupun sama yang kita jual belikan

Dan walapun kita berada dalam profesi yang sama

Hasil yang kita terima akan berbeda beda

Perbedaan mungkin terdapat pada banyaknya harta yang kamu kumpulkan

Namun ada juga dalam wujud kenyamanan hati

Banyak yang menyebutnya Bahagia………

Semua itu merupakan wujud kasih sayang Tuhan

Mereka yang sungguh sungguh akan menemukan apa yang mereka cari

Mereka yang berani berkorban lebih akan menuai derajat yang lebih tinggi

Bukan pada jumlahnya, namun berkah yang membuatnya cukup dan merasa tercukupi

Sudah tergaris dalam kehidupan manusia, dalam menjalani kehidupan sebenarnya kita sudah mendapatkan bekal dari Tuhan

Jalan dan kebutuhan hidup sebenarnya sudah siap di sekitar kita, layaknya udara yang kita hirup selama ini

Namun kadang manusia gelap mata dan hati, yang masih jauh terlihat lebih indah dan meyakinkan padahal hal hal yang berada di sekitar kita yang masih menjadi tanggung jawab, disia siakan seolah tidak memiliki makna

Rezeki itu sudah disiapkan oleh Tuhan, tak akan bekurang secuil pun kalau hanya untuk mencukupi kebutuhan dari kita lahir sampai mati

Namun kalau untuk mencukupi keinginan kita yang tiada batasnya, semuanya terlihat sedikit, pikiran semakin sempit dan hati semakin gelap

Mereka yang lebih dahulu dibanding kita, sering berpesan, Jalani apa yang ada dan apa yang belum ada jangan terlalu diharapkan berlebihan, tenangkan dan buka sejenak hati kita,

“Jika sesuatu itu memang hak kamu, maka sesuatu itu akan datang kepadamu dan menjadi milikmu, Jika bukan hakmu apalagi merebut hak orang lain dengan cara yang buruk, hanya akan membuat hidup sengsara, semua akan lenyap, dan kembali sesuai dengan yang semestinya”

“Jika kenyaman itu hanya bisa dibeli dengan kekayaan, betapa hina dan sengsaranya orang tanpa harta, Untungnya kenyamanan bisa dimiliki siapa saja yang mau sejenak meletakkan hatinya dari dunia, mengulurkan tangan kepada saudaranya dan memasrahkan hasilnya kepada Tuhan”

Dikutip dari Budayawan Jawa Ronggo Warsito

Dalam kondisi tertentu, biarkan rasa nyaman itu terus disamping kita 🙂

Selamat berbahagia 🙂

Advertisements
 
 

Tags: , , ,

Belajar dari Sambung Pucuk

Pernah mendengar istilah sambung pucuk? Sambung pucuk merupakan cara pengembangbiakan tanaman dengan menyambung salah satu bagian tanaman ke pohon lain sehingga diperoleh berbagai macam bunga atau buah dalam satu pohon. Namun, tanaman yang sudah dilakukan sambung pucuk memerlukan perawatan sangat yang khusus. Ada beberapa bagian yang harus hilang, dan beberapa bagian yang tidak kuat melewati proses terpaksa harus mengering dan mati.

Begitu juga dengan hidup, untuk mencapai sebuah keadaan yang lebih baik dan mulia, tak hanya membutuhkan kerja keras, butuh kesabaran dan beberapa pengorbanan. Layaknya tanaman yang dilakukan sambung pucuk, semua tunas dan mahkotanya harus dipangkas terlebih dulu. Bagian ujungnya harus terisolasi dan terbungkus plastik. Bersaing dengan cabang – cabang yang lain untuk mendapatkan suplai air dari akar. Yang tidak kuat harus mengering dan mati, namun yang tegar dan mampu melewati proses mulai menunjukkan tunas baru dengan keindahan mahkota barunya.

Dari 10 cabang yang dilakukan sambung pucuk, hanya 3 cabang yang mulai menunjukkan tunas dengan mahkota barunya. Beberapa mulai mengering dan mati bahkan cabang yang lainya memilih untuk membentuk tunas dengan mahkota yang sama. Sesulit itukah untuk menjadi lebih indah? Dalam hal ini, Akal pikiran kita yang berperan sangat penting. Akal kita yang akan bekerja untuk memilih jalan dan mencari solusi setiap ujian yang kita hadapi. Selamat beraktivitas saudaraku!! 😀

 
 

Obat

Malam ini bambu-bambu itu tak lagi runcing layaknya pejuang yang siap menancapkan senjata. Tak jua berukuran panjang, layaknya bambu di pinggiran jalan yang penuh dengan kain dan semburat tulisan berbagai makna. Hanya sepanjang lengan, dengan api yang menyala terang di ujungnya. Asap hitam yang muncul akibat pembakaran kain dan minyak membuat api seakan menyatu dengan gelapnya malam. Masyarakat menyebutnya ‘oncor’. Bambu- bambu itu melintas perlahan, bahkan dengan teriakan dan semangat dari mereka. Mereka yang menggunakan baju koko dan peci ala bung karno itu sebenarnya bukan berteriak. Mereka menggemakan takbir, sebuah ungkapan untuk menunjukkan kemenangan dan kebesaran Tuhan.

Melintas layaknya bambu, pemuda pemudi dengan motornya turut meramaikan malam. Layaknya kumpulan kunang-kunang, besi tua dengan roda dua ini tak kalah terang membuat malam seperti siang. Namun keramaian itu luntur, luntur oleh butiran air yang jatuh dari langit dan mengguyur jalanan. Sebenarnya bukan hujan badai maupun angin kencang, malam ini Tuhan berbaik hati memberikan nikmatnya untuk menenangkan malam. Hanya sebentar, tapi butiran butiran air itu cukup mendiamkan dan menenangkan pemuda pemudi yang sejak tadi beradu argumen.

Dada ini serasa buncah dan terdiam melihat butiran air turun dan terhenti. Butiran air yang sering disebut hujan ini  layaknya obat. Obat segala penyakit kronis hati, obat penenang yang lebih ampuh dari ribuan obat bius. Debu pun tak lagi berterbangan, nyala api pun terpadamkan, sorak sorai keramaian menjadi bisu. Tak butuh banyak butiran air, dosis yang sesuai membuat penyakit kronis juga akan mati.

Tak peduli pahit ataupun manis…Indahnya menjadi obat…

 
 

Jangan Pelit Nanti Kuburanmu Sempit!

 

Jangan pelit nanti kuburanmu sempit!
Mungkin kita pernah mendengar sepotong kalimat tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebuah kalimat yang memberikan berbagai penafsiran bagi pendengarnya. Ada pendengar yang peduli dengan terus mencari informasi tentang kebenaran kalimat itu dan ada pendengar yang masa bodoh terhadap kalimat yang menurut mereka kalimat yang tak masuk akal.

Saya rasa semua agama pasti menganjurkan kita untuk berbagi terhadap sesama. Berbagi dalam hal kebaikan yang semestinya memberikan manfaat kepada orang lain. Begitu juga dengan islam yang menganjurkan kita untuk berbagi dengan sesama dalam segala aspek kehidupan. Bahkan sebuah kebiasaan yang sama sekali tidak menguras tenaga dapat dihitung sebagai sedekah. Senyum merupakan kebiasaan yang kita lakukan setiap hari dan memberikan nilai luar biasa bagi diri kita dan orang lain.

Cukupkah dengan senyum tiap hari? Saya rasa senyum bukanlah solusi paling tepat untuk memberikan manfaat besar bagi orang lain. Kita harus berbagi, memberikan sebagian tenaga, materi dan pikiran kita untuk orang lain. Dengan berbagi kita akan menemukan kebahagaiaan jiwa yang selama ini kita cari. Saya akan sedikit berbagi motivasi agar kita lebih enteng sedekah/berbagi :

Pertama, selalu ingat bahwa tabungan kita yang sejati bukanlah tabungan deposito, tabungan bank atau tabungan lainya. Tabungan kita yang sejati adalah tabungan akherat, menabung di akherat tidak membutuhkan bank atau lembaga keuangan yang lain. Setiap kita berbagi, memberi nasi, memberi uang, memberi benda berharga yang paling anda sukai kepada orang yang membutuhkan itulah tabungan akherat.

Kedua, selalu ingat ganjaran yang akan diberikan oleh Allah ketika kita mau berbagi di jalanNya, ibarat sebuah biji yang menumbuhkan 7 tangkai dan tiap tangkai menghasilkan 100 butir. Betapa besar ganjaran yang diberikan oleh Allah, apa g sayang tuh kalo dilewatin begitu saja?

Ketiga, sedekah yang kita lakukan bukan lantas berakhir sia sia, pernahkah anda mendengar bahwa sedekah itu pelebur dosa? pernahkah anda mendengar sedekah itu penolak bala? Saya rasa hal itu ada benarnya, silakan mengecek dalam Al quran atau Hadits, bahwa sedekah itu mampu meleburkan dosa dan menolak bencana. Bayangkan bila dosa dan bencana itu terhapus dengan mudahnya dengan sedekah dn ridloNya, mudah bukan?

Buang jauh jauh perasaan harta akan berkurang ketika kita berbagi atau bersedekah dengan orang lain, Allah yang akan mencukupkan kita dengan semua kekuasaanNya. Kuncinya hanya yakin dan praktekkan 🙂

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 19, 2012 in Pegangan Hidup

 

Belajar dari Ulat

Sebuah kata yang mungkin sudah lama terdengar semenjak kita masih duduk di bangku sekolah dasar, metamorfosa. Sebuah kata yang sering kita terjemahkan sebagai perubahan bentuk kehidupan serangga  dalam mencapai wujud kesempurnaan.Tanpa disadari manusia juga mengalami ‘metamorfosa’, sebuah perubahan kehidupan yang tak bisa kita tolak. Metamorfosa yang dialami manusia tak terlihat signifikan layaknya ulat yang menjadi kupu – kupu. Namun jiwa dan pemikiran  yang terbentuk melalui tahapan atau proses metamorfosa yang membuat manusia mendapatkan hasil yang berbeda dari proses metamorfosa. Seekor ulat yang hanya mampu menghabiskan hidupnya untuk makan dan merugikan manusia, menjelma menjadi seekor kupu kupu yang indah dan bermanfaat dalam proses penyerbukan. Bukan Om Jin dari lampu ajaib yang mampu merubah ulat seketika menjadi kupu – kupu, proses kepompong dan kehendakNya yang turut bercampur. Seekor ulat rela menahan nafsu berminggu minggu demi mendapatkan wujud kupu – kupu.

Bukan hal yang hina bila kita belajar dari ulat dalam hal positif, belajar kebaikan dari makhlukNya juga membuat manusia lebih mengerti dan menerima. Layaknya ulat, seorang manusia bahkan mampu mencapai bentuk kehidupan yang lebih baik. Bila ulat mampu berpuasa mengapa kita tidak? Bila ulat mampu bersabar mengapa kita tidak? Bila ulat mampu menahan nafsu mengapa kita tidak? Seharusnya kita malu bila kalah dengan seekor ulat yang sebenarnya tidak dikaruniai akal. Seorang yang besar juga berasal dari ujian yang berat. Selalu banyak hikmah yang kita dapat dari setiap proses “metamorfosa”,

hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih baik,
hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih mulia di hadapanNya,
hikmah untuk menjadi seseorang yang lebih bermanfaat untuk orang lain 🙂

Bukan berniat menggurui, saling berbagi dan memahami selalu lebih indah. Selamat belajar dari ulat dan selamat bermetamorfosa saudaraku 🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 16, 2012 in Pegangan Hidup

 

Bukan Layaknya Pilihan Ganda

Hidup selalu disertai banyak pilhan dan kesempatan yang menentukan arah. Menentukan sebuah pilihan bukan persoalan gampang layaknya memilih butiran butiran pilihan ganda yang diberikan oleh penguji. Kita bisa saja memilih jawaban dalam soal ujian dengan menghitung kancing kemeja , tapi resiko terburuk yang kita hadapi adalah bersiap untuk melihat tinta merah menghiasi lembar jawaban. Namun bagaimana dengan pilihan hidup? Bisakah dengan menghitung kancing baju? Hanya tinta merahkah resiko yang kita terima?

Allah memberikan kita akal pikiran dan nafsu. Dalam memilih, kedua hal ini selalu ikut terlibat. Tak bisa dipungkiri manusia bisa memilih sesuai insting nafsunya atau menimang nimang dengan akal sehatnya. Setiap pilihan memiliki resiko, entah itu pilihan yang baik atau buruk. Kita sendiri yang akan menilai ketika pilihan itu berbuah manis atau pahit. Ketika pilihan itu sudah dibuat ada beberapa dampak yang mungkin bisa saya bagikan terhadap pembaca.

Pertama, setelah menimbang dan memutuskan untuk membuat sebuah pilihan. Hidup yang kita jalani terasa semakin lancar dan gampang. Bahkan kita sama sekali merasa tidak menanggung beban. Semua seperti jalan bebas hambatan yang siap melaju kencang dengan kecepatan minimal 60 km/jam. Tentu kondisi seperti inilah yang kita inginkan. Pilihan yang kita buat seolah sudah tepat dan membuat arah hidup kita semakin sesuai dengan rencana rencana yang kita buat. Mungkin dalam hati kita sudah terbesit “Pilihanku selaras dengan pilihanNya”

Kedua, ibarat koin logam yang selalu memiliki 2 buah sisi, pilihan yang kita buat juga dapat berdampak sebaliknya. Lingkungan seolah menolak mentah mentah pilihan itu, semua jadi serba sulit. Bukan lagi jalan bebas hambatan yang terlihat, melainkan sebuah jalan yang penuh karang dan jurang. Lantas apa ini berarti pilihan kita salah? Rencana Tuhan tidak semudah itu kita terka dan langsung memanen jawaban. Kita diberikan akal, tapi ilmu yang kita miliki masih terbatas, dan sangat jauh bila dibandingkan denganNya.
Ketika menghadapi situasi seperti ini, jangan pernah memvonis pilihan kita salah. Nikmati proses yang merupakan resiko pilihan kita. Percaya jika Tuhan punya misi indah dari semua pilihan ini. Ada beberapa kemungkinan ketika kita diberikan jalan yang penuh karang dan jurang, kemungkinan pertama karena memang Tuhan ingin menguji kesabaran dan meningkatkan derajat kita dihadapanNya, toh Tuhan lebih tahu kemampuan hambaNya untuk menghadapi ujianNya. Kemungkinan kedua, karena memang Tuhan ingin menunjukkan jalan yang benar kepada kita, Tuhan bisa saja mengingatkan kita melalui berbagai kesulitan dan cobaan. Bersyukur ketika kita masih diingatkan, bayangkan bila semua sudah menjadi bubur. Tuhan meminta kita untuk segera berubah, Tuhan meminta kita untuk jauh dari bahaya yang kita buat sendiri.

“Rambu” itu bisa kita rasa, mungkin bintik bintik hitam yang membuat semuanya seperti tertutup. Jangan sampai hati ini mati, kenali dan nikmati prosesnya. Memilih itu pasti, namun hanya Tuhan yang tahu pilihan itu selaras dengan takdirNya. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2012 in Pegangan Hidup

 

Komitmen

Saat kita ingin melepaskan seseorang ingatlah saa kita ingin bersamanya…

Saat kita mulai tidak mencintainya, ingatlah saat kita jatuh cinta pertama kepadanya

Saat kita mulai bosan denganya, ingatlah saat terindah bersamanya

Saat kita menduakanya ingatlah dia yang selalu setia

Saat kita ingin membohonginya ingatlah saat dia jujur pada kita

Keindahan hanya sementara, biasakan menjaga apa yang kita punya

Jika kita tidak memiliki apa yang kita sukai belajarlah menyukai apa yang kita miliki

Tidak hubungan yang sempurna, yang ada hanyalah hubungan yang saling menyempurnakan

Cinta itu indah saat kita mempertahankan keutuhannya…….

**Dikutip dari tweet Rangga Umara Pecel Lele Lela

 
1 Comment

Posted by on April 29, 2012 in Pegangan Hidup