RSS
Aside
29 Jun

Jalan MamasaPerjalanan 10-12 jam dari kota Makassar memang terlihat melelahkan. Terlebih kita harus berganti kendaraan dua kali sebelum sampai di kelas baru ini, kelas Mamasa. Kalau dalam cerita sebelumnya, saya bercerita tentang banyaknya ‘kolam lele’ di jalan, sepertinya lebih cocok kalau cerita kali ini bercerita tentang Ramadhan. Yaa kali ini Ramadhan pertama, di kelas Mamasa. Rasa keingin tahuan ini terus memaksa saya mengerti dan menikmati suasana kelas baru, apalagi di bulan yang menurut orang muslim bulan yang istimewa.

Berbicara soal Ramadhan tentu tidak luput dari puasa dan sholat tarawih. Puasa merupakan sebuah ibadah yang sangat menjunjung tinggi kejujuran, bayangkan saja, yang tau kalau kita benar benar berpuasa hanya kita dan Tuhan. Selain puasa, bulan Ramadhan memberikan kesempatan kita untuk menghidupkan suasana malam dengan sholat tarawih. Kesempatan inilah yang saya gunakan untuk menyaksikan budaya di kelas baru ini.

Sarung sudah terbelit di perut, peci sudah menempel di kepala, pakaian dan jaket sudah menutupi tubuh yang gemetar, Kelas baru yang saya tempati ini, memiliki suhu udara yang jauh berbeda dari kelas kelas yang sebelumnya. Di gunung tiap sore hampir pasti hujan, walaupun hujan yang turun hanya sebatas menyirami halaman depan kelas. Motor yang terparkir dluar saat malam hari, dalam beberapa menit kaca spion sudah tertutup embun.

Tarawih di kelas baru ini sedikit berbeda, sebelum pelaksanaan sholat tarawih, adzan isya mundur sekitar 30-40 menit, kemudian setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, ada MC yang selama dua hari ini seorang wanita membacakan susunan acara. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, kemudian dilanjut dengan kultum (Kuliah Tujuh Belas Menit) , selanjutnya diisi dengan penyampaian panitia persiapan buka puasa di masjid, dan terakhir dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah. Beda daerah beda budaya, dengan budaya seperti ini, Masjid Besar Mamasa ini terlihat sangat menghidupkan malam bulan Ramadhan terbukti dengan penuhnya barisan sholat oleh jamaah laki-laki maupun perempuan.

Ramadhan setiap tahunya selalu memberikan kesan yang istimewa. Biasanya saat berbuka puasa, Ibu yang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, atau mungkin tinggal ambil dompet jajan makanan diluar. Di kelas baru, kita memasak dan menyiapkan sendiri masakan yang akan kita santap untuk berbuka. Begitu juga saat sahur, kalau mungkin di rumah ibu yang biasanya bangun lebih awal menyiapkan makan sahur, sekarang kita yang harus bangun lebih awal menyiapkan makan sahur.

Sesuatu memang terasa lebih berarti ketika sudah menghilang dari rutinitas kita, sesuatu yang kadang kita anggap biasa, ternyata akan sering kita rindukan di tempat yang baru. Namun bukan berarti peluh dan penyesalan yang akhirnya muncul, justru dari situ nantinya kita mulai belajar menghargai dan mensyukuri hal hal yang kecil.

Selamat ‘berlomba’ meramaikan Ramadhan di tahun 2014 ini, penulis memohon maaf atas setiap kata maupun kalimat yang menyinggung perasaan pembaca 🙂

Kelas Mamasa (2)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 29, 2014 in Cerita Hidup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: