RSS

Monthly Archives: June 2014

Aside

Jalan MamasaPerjalanan 10-12 jam dari kota Makassar memang terlihat melelahkan. Terlebih kita harus berganti kendaraan dua kali sebelum sampai di kelas baru ini, kelas Mamasa. Kalau dalam cerita sebelumnya, saya bercerita tentang banyaknya ‘kolam lele’ di jalan, sepertinya lebih cocok kalau cerita kali ini bercerita tentang Ramadhan. Yaa kali ini Ramadhan pertama, di kelas Mamasa. Rasa keingin tahuan ini terus memaksa saya mengerti dan menikmati suasana kelas baru, apalagi di bulan yang menurut orang muslim bulan yang istimewa.

Berbicara soal Ramadhan tentu tidak luput dari puasa dan sholat tarawih. Puasa merupakan sebuah ibadah yang sangat menjunjung tinggi kejujuran, bayangkan saja, yang tau kalau kita benar benar berpuasa hanya kita dan Tuhan. Selain puasa, bulan Ramadhan memberikan kesempatan kita untuk menghidupkan suasana malam dengan sholat tarawih. Kesempatan inilah yang saya gunakan untuk menyaksikan budaya di kelas baru ini.

Sarung sudah terbelit di perut, peci sudah menempel di kepala, pakaian dan jaket sudah menutupi tubuh yang gemetar, Kelas baru yang saya tempati ini, memiliki suhu udara yang jauh berbeda dari kelas kelas yang sebelumnya. Di gunung tiap sore hampir pasti hujan, walaupun hujan yang turun hanya sebatas menyirami halaman depan kelas. Motor yang terparkir dluar saat malam hari, dalam beberapa menit kaca spion sudah tertutup embun.

Tarawih di kelas baru ini sedikit berbeda, sebelum pelaksanaan sholat tarawih, adzan isya mundur sekitar 30-40 menit, kemudian setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, ada MC yang selama dua hari ini seorang wanita membacakan susunan acara. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, kemudian dilanjut dengan kultum (Kuliah Tujuh Belas Menit) , selanjutnya diisi dengan penyampaian panitia persiapan buka puasa di masjid, dan terakhir dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah. Beda daerah beda budaya, dengan budaya seperti ini, Masjid Besar Mamasa ini terlihat sangat menghidupkan malam bulan Ramadhan terbukti dengan penuhnya barisan sholat oleh jamaah laki-laki maupun perempuan.

Ramadhan setiap tahunya selalu memberikan kesan yang istimewa. Biasanya saat berbuka puasa, Ibu yang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, atau mungkin tinggal ambil dompet jajan makanan diluar. Di kelas baru, kita memasak dan menyiapkan sendiri masakan yang akan kita santap untuk berbuka. Begitu juga saat sahur, kalau mungkin di rumah ibu yang biasanya bangun lebih awal menyiapkan makan sahur, sekarang kita yang harus bangun lebih awal menyiapkan makan sahur.

Sesuatu memang terasa lebih berarti ketika sudah menghilang dari rutinitas kita, sesuatu yang kadang kita anggap biasa, ternyata akan sering kita rindukan di tempat yang baru. Namun bukan berarti peluh dan penyesalan yang akhirnya muncul, justru dari situ nantinya kita mulai belajar menghargai dan mensyukuri hal hal yang kecil.

Selamat ‘berlomba’ meramaikan Ramadhan di tahun 2014 ini, penulis memohon maaf atas setiap kata maupun kalimat yang menyinggung perasaan pembaca 🙂

Kelas Mamasa (2)

 
Leave a comment

Posted by on June 29, 2014 in Cerita Hidup

 

Kelas Mamasa (1)

Mamasa 2014Seolah-olah tak mau dipilih sesuka hati, hidup selalu punya jalanya sendiri. Berbeda ketika kita berpergian, mungkin kita sudah hafal jalan yang kita lintasi, yaa minimal kita sudah berbekal sedikit pengetahuan tentang jalan dan tujuan yang akan kita lalui. Tapi hidup? Urusan yang satu ini jauh berbeda, beruntung bagi kita yang menyukai sebuah kejutan.

Hidup sepertinya juga mempunyai sebuah ‘kelas’. Tingkatan kelas biasanya melalui sebuah ujian. Berbicara ujian terlalu sempit jika mengacu pada ujian di sekolah, ujian hidup jauh berbeda dari ujian sekolah. Kelulusan tidak memerlukan patokan layaknya Ujian Nasional. Kita sendiri yang langsung mengoreksi dan menilai kelulusan dan kenaikan ‘kelas’ hidup.

Memasuki kelas kehidupan baru, sebuah kelas yang saya pun tak pernah terbayang sebelumnya. Sebuah kelas yang bahkan saya masih buta akan mata pelajaran dan pengajarnya. Berbekal sebuah pendidikan kedinasan yang menjanjikan pekerjaan tetap sebagai seorang abdi, selembar Surat Keputusan membuat saya duduk dalam kelas Mamasa. Lebih banyak yang berbicara negatif soal kelas baru ini. Bermodalkan kenyamanan dan kemantaban hati, saya memutuskan mencoba mempelajari kelas

Kelas Mamasa, kesan yang pertama kali muncul ketika memasuki kelas ini “berlubang”, Banyak lubang yang harus ditutup di kelas ini. Saat hujan, lubang ini tertutup oleh air, membuat lubang yang tergenang oleh air ini terlihat seperti kolam lele. Tanpa disadari tanah yang kita injak ini terkadang ikut longsor, batu yang sebesar honda jazz bahkan pernah turun dari langit.

Kelas baru, biasanya berjejer jejer ‘kantin’ yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Namun kantin disini berbeda dari beberapa kelas yang pernah saya lalui. Kantin lebih menyediakan makanan yang tidak saya sukai, beruntung karena saya tidak suka maka agama sudah melarangnya. Yaa, di kelas Mamasa ini ada pelajaran baru yang saya dapatkan, pelajaran memasak. sebuah pelajaran yang selama ini menurut saya lebih banyak dipelajari kaum hawa. Masalah rasa bukan prioritas utama, udara dingin di ruangan kelas Mamasa membuat makanan sering terlihat lebih enak.

Hati juga butuh tempat, sayangnya di kelas Mamasa tempat yang memberikan kenyamanan dan ketenangan hati itu sedikit lebih jauh. Berbeda kalau sebelumnya bisa ditempuh dengan jalan kaki, kali ini harus ditempuh dengan kendaraan. Mungkin sekitar 2-3 km dari kelas. Sebuah tempat yang lebih sering menjadi tempat pelarian dari carut marutnya dunia, sebuah tempat yang lebih sering menjadi tempat mengadu dan meminta, sebuah tempat yang memberikan kenyamanan batin luar biasa.

Kelas Mamasa, Sebuah tempat baru dengan hal hal yang baru, sebuah kelas baru dengan teman dan saudara baru

Ketika hati itu menunjukkan peranya yang benar, kita cukup menikmati peranya dengan kenyamanan dan ketenangan yang kita rasakan 🙂

Selamat belajar sahabatku!!

 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2014 in Cerita Hidup

 

Tags: , , ,