RSS

Estafet Ember

17 Dec

Image

Weekend yang sering dinantikan itu akhirnya tiba. Tiada rencana khusus untuk mengisi akhir pekan, kecuali rencana kecil untuk menghilangkan gumpalan- gumpalan lemak di perut. Berbagai agenda olahraga mulai berenang sampai futsal sudah tertata rapi layaknya literatur perpustakaan. Hingga pada hari minggu pagi salah seorang rekan kosan yang penuh bulu di wajahnya mengetok pintu kamar,

“Kuh, nggak ikut kerja bakti?” Wajahnya menyeringai penuh tawa

“Kerja bakti apaan, Om? “

“Biasalah, bersihin sampah di selokan kampung” Tanganya menutup pintu sambil, beranjak pergi meninggalkan kamar dan bergegas menuju perkampungan.

Saya jadi teringat beberapa minggu lalu, kampung kecil ini sempat melakukan kerja bakti pengecoran rumah kyai yang memiliki pesantren. Jangan tanya masalah upah, warga kampung sini terlihat rukun dan gotong royong. Sedikit gorengan, ubi dan lontong sudah membuat mereka bekerja dengan tawa dan penuh canda. Apalagi ditambah semangka dan segelas es teh manis, ah saya pun sudah tergiur. Kapan lagi anak kosan seperti kami dapat cemilan gratis sambil berkumpul bersama warga sekitar. Tanpa pikir panjang, kaki sudah beranjak dari kasur, memakai celana pendek (kolor) dan sedikit basuhan air keran sudah membuat wajah segar. Yaah, walaupun bentuk mata ini tak bisa menipu kalau saya memang baru bangun pagi itu.

Dalam benak dan imajinasi, selokan hanya sebuah parit kecil yang berisi tempat pembuangan air dari proses rumah tangga. Namun ini Jakarta sobat, parit kecil yang selama ini kita bayangkan hanya ada di komplek atau perumahan. Selokan yang ini lebih mirip aliran sungai yang berwarna hitam arang, kental dan pekat. Belum lagi letaknya yang dekat dengan tumbuhan tumbuhan liar. Tumbuhan liar sih nggak masalah, cman dalam satu pohon saja, saya bisa menghitung ada sekitar 4-5 ulat bulu. Seperti yang saya bilang, selokan ini lebih mirip aliran sungai, jangan berpikir kita bisa berada di pinggirnya dengan mudah mengayunkan cangkul dan mengeluarkan sampahnya. Masuk ke aliranya adalah jalan satu satunya.

“ Ayo mas, masuk aja ke dalem biar cepat beres” Salah seorang warga meneriaki kumpulan warga yang masih berkumpul

Jujur saja, saya masih sibuk menutup muka dengan kaos. MasyaAllah baunya om, susah untuk diungkapkan kata kata. Sampai ada seorang warga tanpa sepatu boot, tanpa banyak bicara, dan langsung terjun ke dalam air hitam yang kental dan pekat. Ah, kapan lagi saya nyobain pengalaman seperti ini.

“Jleeeb…Bleeeees” Alamaaaak, air hitam ini ternyata menyimpan bubur. Bubur alias lumpur yang dalemnya hampir selutut. Belum lagi lumpur ini bercampur kotoran hasil limbah rumah tangga. Bahkan tidak jarang material bangunan seperti kayu dan batu bata ikut tercampur. Satu lagi yang lebih mengejutkan, pipa air yang berada di sebelah kiri dan kanan selokan ini. Kita tentu tau sobat, setiap pipa merupakan pembuangan dari limbah rumah tangga.

“Kricik…kricik..kricik..” Suara air dari pipa memecah gurauan warga yang sudah terjebak lumpur hitam

“Hahahahaha…wooi ada yang di bawahnya pipa gak tuh?” Salah seorang warga nyeletuk dengan tawanya

“Enggak ada yang kena bang, tapi air disini jadi agak anget” Sahutku sambil ikut tertawa

Masuk ke air hitam, ayunkan cangkul, masukan kotoran ke dalam ember. Beberapa orang yang tanpa cangkul, berdiri berjajar mengalirkan ember berisi kotoran bercampur bubur. Semakin jelas sudah wujud kotoran dalam sungai, belum lagi bau yang dihasilkan. Hehehe…

Tangan terus berayun mengalirkan ember- ember yang berisi lumpur dan sampah. Hanya berayun memang, tapi pegal di lengan ini baru terasa keesokan hari. Sama persis ketika kami gotong royong pengecoran rumah kyai, hanya estafet ember yang kami lakukan. Tapi lecet dan rasa pegal di lengan sulit dihindari. Lecet dan pegal bukan masalah sobat, tawa dan kebersamaan ini yang membuatnya lupa. Belum lagi ketika hidangan dari ibu – ibu sekitar, tangan kotor ini mulai kebingungan mencari air. Tangan kotor ini mulai kebingungan mencari alas untuk mengambil makanan dan minuman yang sudah terhidang.

“Ternyata masih enak yaa” Komentar sahabat saya yang menikmati tahu goreng

“Hahahaha.. he’eh masih enak, kalau mau petis ada tuh tinggal dicocol” sahut saya sambil menunjuk tumpukan lumpur hitam yang kental dan pekat

Oh ya, bau yang dihasilkan ternyata  memaksa saya harus menggosok badan dengan sabun berkali – berkali. Bahkan aromanya terasa menusuk hidung dan susah dilupakan..hehe

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 17, 2012 in Cerita Hidup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: