RSS

Bebek Tepi Sawah

14 Dec

ImageSeharusnya sore ini nampak cerah, mendung gelap berjalan meninggalkan sudut kota Jakarta. Laju Commuter Line yang menuju arah pondok ranji juga lengang seperti biasanya. Semenjak makan siang bersama kerabat kantor, seharusnya hati ini masih larut dalam tawa. Bagaimana tidak, melihat semua berbaur dalam sebuah meja makan, seolah semua sudah lupa akan banyaknya tugas kantor yang menumpuk di meja. Berbaur dalam balutan bebek goreng dan bebek bakar membuat kita melupakan jabatan. Pandangan ini tak luput ke beberapa kerabat kantor yang terlihat berkeringat menikmati pedasnya sambal yang disajikan Rumah Makan ini . Malah bola mata ini sempat melihat kejadian lucu, ketika seorang kerabat disamping saya yang terlihat nervous duduk di samping bos sedang terburu buru meminum es teh manis dengan sedotan. Tiba tiba dia nyeletuk dengan santai, “ Eh, teh nya kok g bisa disedot mas, ternyata sedotanya masih dibungkus plastik “ Kalau boleh jujur , hampir saja tawa ini terlepas. Namun sudahlah, nggak pantas kalau mulut ini terlalu diumbar apalagi menertawakan orang lain saat dia tidak ingin ditertawakan.

Berbicara masalah kejadian konyol, sebenarnya kejadian yang satu ini juga membuat perut geli. Perjalanan menuju Living World, Bebek Tepi Sawah sebenarnya bukan sebuah perjalanan yang sulit. Hanya saja, gema adzan dzuhur sudah berkumandang dan memaksa perjalanan ini berhenti untuk menunaikan kewajiban hari Jumat. Buta akan daerah Serpong, mengharuskan kami mengikuti kerabat senior dari kantor yang juga berkendara dengan motor. Setelah asik meliuk liuk melewati beberapa mobil dan geleng geleng melihat deretan pertokoan super mewah, tiba tiba seorang teman memutus lamunan, “ Kuh, Pak Mamun mana? “

“Lah, itu yang di depan kan Pak Mamun”

“Ngawur, itu bukan pak Mamun”

Mata sayu ini langsung membelalak tajam melihat sosok yang ada di depan motor, kemudian mengernyitkan dahi, “ Hahahaa.. ternyata bukan, lah kita nyasar kemana ini? “

Tanpa berpikir panjang, mesin matic ini kami putar menyusuri jalan yang sudah terlewatkan. Mata ini menyapu setiap jengkal jalanan, dan terbukti sosok yang kami cari tengah berhenti di pinggir jalan sambil mencari informasi masjid terdekat. Raut wajah penuh tawa itu masih menghiasi, bahkan sesampainya berbaur dalam meja yang penuh bebek.

Secuil kebahagiaan yang mulai menciptakan sebuah suasana keluarga baru lagi. Semua tentu berharap hubungan keluarga tanpa ikatan darah ini terus berjalan baik dimanapun kita berada J

*Ah yaa, foto menyusul,,hehe

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 14, 2012 in Cerita Hidup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: