RSS

Monthly Archives: December 2012

Asyiknya Saling Senggol

commuterUdara pagi mulai terusik asap angkutan umum yang berlalu lalang mengambil penumpang.  Suara klakson mulai bergantian dibunyikan beriringan dengan umpatan sopir. Beberapa penumpang bergantian naik turun angkutan yang mulai ngebut menjelelajah kota metropolitan. Angkutan hanya sebagai pelengkap transportasi antar kelurahan, Commuter Line atau KRL merupakan transportasi anti macet yang lebih dinikmati masyarakat kota ini. Tak peduli berjubel sampai ratusan orang, tak peduli sampai harus saling sikut, “ Yang penting gue nyampe kantor nggak telat, mas” celetuk salah seorang yang sudah terlihat resah melihat jam tanganya.

Sebenarnya saya miris sekaligus takjub melihat keadaan alat transportasi yang satu ini. Bagaimana nggak miris kalau tiap jam kerja jarak antar penumpang hanya kulit, saling senggol dan sentuh sudah dianggap biasa. Namun saya juga takjub, melihat mereka yang rela naik di atas atap gerbong kereta. Mereka tak terlihat takut, beberapa justru saling melempar gurauan. Seringkali otak ini berandai andai ingin ikut meramaikan atap gerbong KRL sambil menikmati sepoinya angin kota metropolitan.

Berbicara soal senggol dan sentuh, banyak cerita menarik yang bisa kita nikmati. Wanita selalu jadi pemeran utama dalam cerita ini. Kaum hawa ini selalu menjadi candu bagi lelaki. Candu yang membuat lelaki terbang dalam balutan pelangi atau candu yang membuat laki laki diam tak berkutik. Lupakan soal candu, kaum hawa yang satu ini sedikit kurang beruntung. Berpakaian rapi dan tampil menawan mengundang lirikan pria. Aroma yang ditabur bahkan melebihi wangi bunga. Melangkah masuk dalam KRL yang sesak penumpang sudah lumrah dong, pikirkanya hanya fokus bahwa kantor sudah menunggunya. Banyak kejadian tak terduga dalam kereta yang sesak penumpang, saat keluar dia hanya protes kepada petugas stasiun transit, “ Pantat gue berasa anget, pas gue pegang,eh rok gue udah basah m cairan kentel warna putih “  Kaum hawa ini jadi korban masturbasi kaum adam!!

Lupakan soal cairan warna putih dan kental, cerita ini juga lebih menarik. Setting yang masih sama dalam sebuah KRL atau Commuter Line. Pemeran utama masih seorang kaum hawa, namun kali ini didampingi sekitar 10 kaum adam. Berdiri nyaman di tengah kerumunan lelaki, tak terbesit dalam pikiranya kejadian buruk akan terjadi. 10 orang laki laki bertampang baik itu mengerumuninya, beberapa pasang mata meliriknya, beberapa tangan mulai nakal menggerayangi bagian tubuh kaum hawa. Kaum yang berasal dari potongan tulang rusuk ini hanya diam, dan mencoba mengatakan kepada beberapa pria untuk menghentikan perbuatanya. Pernah mendengar ketika laki laki sudah dirundung birahi maka 1/3 akalnya hilang?? Mungkin ini salah satu wujudnya, kaum adam hanya tertawa dan sebagian dari mereka justru menutupi perbuatan bejat itu. Wanita itu hanya bisa keluar meninggalkan kereta dan mengadu kepada petugas.

Jakarta, sebuah kota dengan beragam wujud manusia berkumpul disini. Ribuan manusia berbaur dan beraktivitas melawan kerasnya hidup. Saya tak tahu harus berkomentar apa atas kejadian tersebut. Saya hanya tak habis pikir, secetek itukah moral mereka. Kalau memang sudah nafsu membelenggu kenapa harus dilampiaskan di transportasi umum. Banyak daerah prostitusi yang masih buka kok di kota sebesar jakarta. Bagaimana jika wanita itu istri anda? Bagaimana jika wanita itu ibu anda? Bagaimana jika wanita itu anak anda? ….Ahh, yang penting perut kenyang birahi terpenuhi….

Ketika kaum hawa dibela, kaum adam tentu ikut protes,..“ Salah sendiri make baju yang bikin nafsu”

Kaum hawa juga pasti membantah, “Yee, mata lo aja tuh yang jelalatan”

Jadi bingung kan siapa yang mau disalahin,hehe…

Padahal pemerintah juga sudah membuat berbagai solusi dengan menyediakan gerbong kereta khusus wanita. Seharusnya kita sadar orang timur selalu menjunjung tinggi moral dan sopan santun. Orang tak beragama seharusnya masih mengenal pancasila. Jangan berpikir setiap perbuatan akan berdampak kenikmatan. Setiap perbuatan yang membuat saudara kita kecewa dan sakit, Dia sudah menghitung dan menyiapkan imbalanya kok, hanya tinggal tunggu waktu. Saudara juga tak harus selalu berhubungan darah kan 🙂

Aah yaa, sebenarnya tulisan ini pengenya diposting hari ibu, apa daya baru terposting sekarang. Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2012 in Cerita Hidup

 

Estafet Ember

Image

Weekend yang sering dinantikan itu akhirnya tiba. Tiada rencana khusus untuk mengisi akhir pekan, kecuali rencana kecil untuk menghilangkan gumpalan- gumpalan lemak di perut. Berbagai agenda olahraga mulai berenang sampai futsal sudah tertata rapi layaknya literatur perpustakaan. Hingga pada hari minggu pagi salah seorang rekan kosan yang penuh bulu di wajahnya mengetok pintu kamar,

“Kuh, nggak ikut kerja bakti?” Wajahnya menyeringai penuh tawa

“Kerja bakti apaan, Om? “

“Biasalah, bersihin sampah di selokan kampung” Tanganya menutup pintu sambil, beranjak pergi meninggalkan kamar dan bergegas menuju perkampungan.

Saya jadi teringat beberapa minggu lalu, kampung kecil ini sempat melakukan kerja bakti pengecoran rumah kyai yang memiliki pesantren. Jangan tanya masalah upah, warga kampung sini terlihat rukun dan gotong royong. Sedikit gorengan, ubi dan lontong sudah membuat mereka bekerja dengan tawa dan penuh canda. Apalagi ditambah semangka dan segelas es teh manis, ah saya pun sudah tergiur. Kapan lagi anak kosan seperti kami dapat cemilan gratis sambil berkumpul bersama warga sekitar. Tanpa pikir panjang, kaki sudah beranjak dari kasur, memakai celana pendek (kolor) dan sedikit basuhan air keran sudah membuat wajah segar. Yaah, walaupun bentuk mata ini tak bisa menipu kalau saya memang baru bangun pagi itu.

Dalam benak dan imajinasi, selokan hanya sebuah parit kecil yang berisi tempat pembuangan air dari proses rumah tangga. Namun ini Jakarta sobat, parit kecil yang selama ini kita bayangkan hanya ada di komplek atau perumahan. Selokan yang ini lebih mirip aliran sungai yang berwarna hitam arang, kental dan pekat. Belum lagi letaknya yang dekat dengan tumbuhan tumbuhan liar. Tumbuhan liar sih nggak masalah, cman dalam satu pohon saja, saya bisa menghitung ada sekitar 4-5 ulat bulu. Seperti yang saya bilang, selokan ini lebih mirip aliran sungai, jangan berpikir kita bisa berada di pinggirnya dengan mudah mengayunkan cangkul dan mengeluarkan sampahnya. Masuk ke aliranya adalah jalan satu satunya.

“ Ayo mas, masuk aja ke dalem biar cepat beres” Salah seorang warga meneriaki kumpulan warga yang masih berkumpul

Jujur saja, saya masih sibuk menutup muka dengan kaos. MasyaAllah baunya om, susah untuk diungkapkan kata kata. Sampai ada seorang warga tanpa sepatu boot, tanpa banyak bicara, dan langsung terjun ke dalam air hitam yang kental dan pekat. Ah, kapan lagi saya nyobain pengalaman seperti ini.

“Jleeeb…Bleeeees” Alamaaaak, air hitam ini ternyata menyimpan bubur. Bubur alias lumpur yang dalemnya hampir selutut. Belum lagi lumpur ini bercampur kotoran hasil limbah rumah tangga. Bahkan tidak jarang material bangunan seperti kayu dan batu bata ikut tercampur. Satu lagi yang lebih mengejutkan, pipa air yang berada di sebelah kiri dan kanan selokan ini. Kita tentu tau sobat, setiap pipa merupakan pembuangan dari limbah rumah tangga.

“Kricik…kricik..kricik..” Suara air dari pipa memecah gurauan warga yang sudah terjebak lumpur hitam

“Hahahahaha…wooi ada yang di bawahnya pipa gak tuh?” Salah seorang warga nyeletuk dengan tawanya

“Enggak ada yang kena bang, tapi air disini jadi agak anget” Sahutku sambil ikut tertawa

Masuk ke air hitam, ayunkan cangkul, masukan kotoran ke dalam ember. Beberapa orang yang tanpa cangkul, berdiri berjajar mengalirkan ember berisi kotoran bercampur bubur. Semakin jelas sudah wujud kotoran dalam sungai, belum lagi bau yang dihasilkan. Hehehe…

Tangan terus berayun mengalirkan ember- ember yang berisi lumpur dan sampah. Hanya berayun memang, tapi pegal di lengan ini baru terasa keesokan hari. Sama persis ketika kami gotong royong pengecoran rumah kyai, hanya estafet ember yang kami lakukan. Tapi lecet dan rasa pegal di lengan sulit dihindari. Lecet dan pegal bukan masalah sobat, tawa dan kebersamaan ini yang membuatnya lupa. Belum lagi ketika hidangan dari ibu – ibu sekitar, tangan kotor ini mulai kebingungan mencari air. Tangan kotor ini mulai kebingungan mencari alas untuk mengambil makanan dan minuman yang sudah terhidang.

“Ternyata masih enak yaa” Komentar sahabat saya yang menikmati tahu goreng

“Hahahaha.. he’eh masih enak, kalau mau petis ada tuh tinggal dicocol” sahut saya sambil menunjuk tumpukan lumpur hitam yang kental dan pekat

Oh ya, bau yang dihasilkan ternyata  memaksa saya harus menggosok badan dengan sabun berkali – berkali. Bahkan aromanya terasa menusuk hidung dan susah dilupakan..hehe

 
Leave a comment

Posted by on December 17, 2012 in Cerita Hidup

 

Bebek Tepi Sawah

ImageSeharusnya sore ini nampak cerah, mendung gelap berjalan meninggalkan sudut kota Jakarta. Laju Commuter Line yang menuju arah pondok ranji juga lengang seperti biasanya. Semenjak makan siang bersama kerabat kantor, seharusnya hati ini masih larut dalam tawa. Bagaimana tidak, melihat semua berbaur dalam sebuah meja makan, seolah semua sudah lupa akan banyaknya tugas kantor yang menumpuk di meja. Berbaur dalam balutan bebek goreng dan bebek bakar membuat kita melupakan jabatan. Pandangan ini tak luput ke beberapa kerabat kantor yang terlihat berkeringat menikmati pedasnya sambal yang disajikan Rumah Makan ini . Malah bola mata ini sempat melihat kejadian lucu, ketika seorang kerabat disamping saya yang terlihat nervous duduk di samping bos sedang terburu buru meminum es teh manis dengan sedotan. Tiba tiba dia nyeletuk dengan santai, “ Eh, teh nya kok g bisa disedot mas, ternyata sedotanya masih dibungkus plastik “ Kalau boleh jujur , hampir saja tawa ini terlepas. Namun sudahlah, nggak pantas kalau mulut ini terlalu diumbar apalagi menertawakan orang lain saat dia tidak ingin ditertawakan.

Berbicara masalah kejadian konyol, sebenarnya kejadian yang satu ini juga membuat perut geli. Perjalanan menuju Living World, Bebek Tepi Sawah sebenarnya bukan sebuah perjalanan yang sulit. Hanya saja, gema adzan dzuhur sudah berkumandang dan memaksa perjalanan ini berhenti untuk menunaikan kewajiban hari Jumat. Buta akan daerah Serpong, mengharuskan kami mengikuti kerabat senior dari kantor yang juga berkendara dengan motor. Setelah asik meliuk liuk melewati beberapa mobil dan geleng geleng melihat deretan pertokoan super mewah, tiba tiba seorang teman memutus lamunan, “ Kuh, Pak Mamun mana? “

“Lah, itu yang di depan kan Pak Mamun”

“Ngawur, itu bukan pak Mamun”

Mata sayu ini langsung membelalak tajam melihat sosok yang ada di depan motor, kemudian mengernyitkan dahi, “ Hahahaa.. ternyata bukan, lah kita nyasar kemana ini? “

Tanpa berpikir panjang, mesin matic ini kami putar menyusuri jalan yang sudah terlewatkan. Mata ini menyapu setiap jengkal jalanan, dan terbukti sosok yang kami cari tengah berhenti di pinggir jalan sambil mencari informasi masjid terdekat. Raut wajah penuh tawa itu masih menghiasi, bahkan sesampainya berbaur dalam meja yang penuh bebek.

Secuil kebahagiaan yang mulai menciptakan sebuah suasana keluarga baru lagi. Semua tentu berharap hubungan keluarga tanpa ikatan darah ini terus berjalan baik dimanapun kita berada J

*Ah yaa, foto menyusul,,hehe

 
Leave a comment

Posted by on December 14, 2012 in Cerita Hidup

 

Semu

Image

Sore itu hujan masih mengguyur Jurangmangu, petir menggelegar memekakkan telinga, angin berhembus seolah siap merobohkan pohon yang menjulang tinggi. Jalanan yang tadinya panas karena terik, mulai tergenang buliran buliran air hujan.

“Brrt..brrrt..” Getaran suara handphone yang mengusik suara hujan

Jari jemari mulai lincah memainkan touchscreen membuka sebuah pesan singkat yang sudah ditunggu. Raut muka yang berusaha menunjukkan ekspresi datar tidak mampu menutupi kernyitan dahi. Terlihat jelas kalau ada yang ganjil dari pesan singkat itu.

Berharap pada manusia hanya menimbulkan kekecewaan, tak kurang dan tak lebih

Setiap detil kehidupan yang terjadi dunia ini telah diatur dengan sempurna. Jangankan masalah semut, masalah hati yang hanya dipendam di balik bibir yang terkunci bahkan sudah tertata rapi layaknya kumpulan referensi yang ada di dalam perpustakaan. Entah bagaimana Dia mengatur semuanya, pahit dan manis adalah hak mutlak dariNya. Jangan berbicara rasionalitas, banyak hal yang terjadi di luar pengetahuan kita.

Bahkan sampai berkali kali kita berpikir keras, semakin berkecamuk di dada. Semakin bingung, semakin gelisah untuk mengungkap sesuatu yang jauh dari penalaran. Sampai pada batasnya, buliran air mulai terjatuh. Duduk bersimpuh dan memelas meminta kejelasan atas keadilan. Tempat mana lagi yang membuat kita nyaman selain mengembalikan semua ke asalnya, hanya padaNya……

 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2012 in Cerita Hidup