RSS

3 Jagoan (1)

05 Nov

Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.30, seorang wanita berjalan cepat ke arah dapur dengan menenteng panci berisikan beras. Mereka menyebut wanita itu sebagai ibu. Wanita yang selalu menyiapkan kebutuhan anak-anaknya dari sejak pagi itu tak pernah bangun terlambat. Sambil menggoreng lauk, beliau selalu berteriak kencang, ” Bangun le, sudah subuh mau sholat jam berapa sampeyan?”
Sebut saja Jaka, anak sulung dari 3 bersaudara ini termasuk anak pemalas. Usianya yang sudah menginjak kepala dua tidak membuat jaka sadar akan peran ibunya di rumah. Mendengar teriakan ibunya dari dapur, matanya mulai terbuka dan menatap jam dinding. Kelopak matanya serasa sangat berat membuat ia hanya berpindah posisi dari tempat tidurnya. Sambil bergumam, “bentar bu, 5 menit lagi”
Oh ya, masih ada satu lagi onggokan daging besar yang masih terlelap. Teriakan ibu yang begitu keras dan terdengar sampai tetangga tidak membuatnya bergerak sedikitpun. Joni, anak kedua yang sudah menginjak Sekolah Menengah Atas, tapi tingkah lakunya masih saja seperti anak kecil yang harus dituntun berjalan. Dia tidak akan bangun sebelum tangan atau benda keras menyentuh pahanya. Ketika mata itu sudah menutup, dia benar benar menjelma layaknya seorang yang tuli sekaligus bisu.
Jatuhnya buah tidak pernah jauh dari pohonya, Jana yang baru berusia enam tahun juga tak mau kalah dengan dua kakaknya. Si kecil ini sebenarnya paling jago kalau harus bangun lebih awal. Hanya saja pelukan Joni yang satu tempat tidur denganya membuat dia ikut terlarut dalam dengkuran Joni. Jangan tertipu dengan kelucuan Jana yang masih berumur 6 tahun, Jana lebih hiperaktif dari kedua kakaknya. Ibu sedikit terlena mendidik anak bungsunya, bahkan terkadang ibu harus sedikit keras mendidik Jana.

Kebiasaan di pagi hari itu belum berhenti sampai sekarang, bahkan Jaka terbiasa tertidur ketika ibu dan dua adiknya harus berangkat ke sekolah. Jaka yang malang, usianya sudah kepala dua dan lulus dari sebuah perguruan tinggi, tapi dia belum mendapatkan pekerjaan. Mungkin panggilan kerja itu masih ditahan oleh pemegang kuasa. Tepat pukul 8.00 , Jaka mulai bangun dari tempat tidurnya. Melakukan aktivitas seperti biasa, menjemur pakaian dan menanti adeknya Jana pulang kemudian menjemputnya.

Melihat jam dinding, Jaka tersadar kewajibanya menjemput adiknya Jana. Jana yang masih berusia 6 tahun bukan tanpa masalah, dia sudah dua kali pindah sekolah. Bukan karena bolos atau di-skors, tapi Jana belum berkeinginan untuk masuk Sekolah Dasar. Dunianya hanya untuk main dan main setiap hari. Bahkan ketika Jaka bertanya kepada Jana, ” Dek, kamu kalo uda gede mau jadi apa? ” Jana yang masih berusia 6 tahun itu menjawab dengan tegas ” Aku mau jadi angry bird mas, mau jadi ultraman”
Jana duduk di bangku sekolah dasar bersama ibunya di salah satu sekolah swasta. Ibunya mengajar di sekolah itu dari pagi hingga siang hari. Bukan Jana kalau tidak membuat ulah. Siang itu Jaka yang menjemput Jana di sekolahnya terlihat bingung. Bekas air mata nampak menempel di pipi Jana dan ibu tidak mengucap sepatah katapun kepadanya. Jana kecil hanya terdiam sambil sesenggukan dengan menenteng beberapa lembar hasil ujian tengah semester yang akan dia tunjukkan kepada Jaka………..

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2012 in Cerita Hidup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: