RSS

Monthly Archives: November 2012

Belajar dari Sambung Pucuk

Pernah mendengar istilah sambung pucuk? Sambung pucuk merupakan cara pengembangbiakan tanaman dengan menyambung salah satu bagian tanaman ke pohon lain sehingga diperoleh berbagai macam bunga atau buah dalam satu pohon. Namun, tanaman yang sudah dilakukan sambung pucuk memerlukan perawatan sangat yang khusus. Ada beberapa bagian yang harus hilang, dan beberapa bagian yang tidak kuat melewati proses terpaksa harus mengering dan mati.

Begitu juga dengan hidup, untuk mencapai sebuah keadaan yang lebih baik dan mulia, tak hanya membutuhkan kerja keras, butuh kesabaran dan beberapa pengorbanan. Layaknya tanaman yang dilakukan sambung pucuk, semua tunas dan mahkotanya harus dipangkas terlebih dulu. Bagian ujungnya harus terisolasi dan terbungkus plastik. Bersaing dengan cabang – cabang yang lain untuk mendapatkan suplai air dari akar. Yang tidak kuat harus mengering dan mati, namun yang tegar dan mampu melewati proses mulai menunjukkan tunas baru dengan keindahan mahkota barunya.

Dari 10 cabang yang dilakukan sambung pucuk, hanya 3 cabang yang mulai menunjukkan tunas dengan mahkota barunya. Beberapa mulai mengering dan mati bahkan cabang yang lainya memilih untuk membentuk tunas dengan mahkota yang sama. Sesulit itukah untuk menjadi lebih indah? Dalam hal ini, Akal pikiran kita yang berperan sangat penting. Akal kita yang akan bekerja untuk memilih jalan dan mencari solusi setiap ujian yang kita hadapi. Selamat beraktivitas saudaraku!! 😀

Advertisements
 
 

3 Jagoan (Akhir)

Jaka yang masih bingung, bergegas mengambil beberapa lembar hasil ujian tengah semester milik adiknya dan memasukannya ke dalam tas. Siang ini Jana tidak memakai helm kecilnya, ia lebih memilih memakai songkok yang sering dipakai oleh Bung Karno. Sambil menaiki motor yang sudah berumur 7 tahun, Jana tidak cerewet minta jajan seperti biasanya, dia hanya terdiam sambil menghisap ingusnya yang daritadi sebenarnya mau keluar dari hidungnya.
Perjalanan dari sekolah ke rumahnya cukup jauh, Jaka yang melihat tingkah aneh adiknya spontan bertanya, ” Sampeyan kenapa kok nangis?”
Jana terdiam sebentar menghisap ingusnya kemudian menjawab, ” Gak tau tanya aja sama ibuk ”
Jaka langsung menyaut, ” Lho yang sekolah siapa, masa mas harus tanya ke ibuk? ”
Jana sedikit berpikir kemudian nyeletuk, ” Tapi jangan diamarahin lagi lho yaa “
” Iyaa” Jawab Jaka dengan cepat
Sambil merasa bersalah Jana berecerita, “Aku tadi dimarahi sama ibu, aku di sekolah nakal lagi, aku main sunat sunatan sama temenku” 
Jaka yang mendengar jawaban adiknya langsung menahan tawa. Dia ingin tertawa sekaligus heran melihat tingkah adiknya Jana. Jana memang tiap hari membuat ulah di sekolahnya, tapi ulahnya kali ini terlihat heboh dan aneh. Jaka hanya mengendalikan tawanya lalu menjawab, ” Nggak boleh gitu kalau sekolah, kasihan ibuk kalau sampeyan nakal terus”

Siang ini ibu harus mengajar sampai sore, beliau harus mengajar di Madrasah Tsanawiyah dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Tepat pukul 14.30 ibu sudah pulang di rumah, beliau nampak kelelahan kali ini, ditambah dengan kenakalan Jana di sekolah membuat ibu terlihat jenuh. Melihat ibu yang sudah pulang diliputi rasa capek, Jaka segera mengajak adiknya Jana untuk tidur siang di kamarnya. Jaka mengerti kalau ibu  sudah terlalu banyak memikirkan jagoan kecilnya yang susah diatur. Jaka yang ikut tidur siang bersama Jana terbangun mendengar suara ibu yang mengeluh capek, dan meminta Joni untuk membeli soto sebagai lauk malam ini. Penjual soto yang sering lewat di rumah mereka sudah seperti langganan. Namun sialnya, sampai adzan maghrib berumandang penjual soto keliling itu tak melewati komplek rumahnya. Jaka sebagai anak sulung sedikit resah melihat keadaan ibunya yang masih tertidur, ditambah kedua adiknya yang lapar menunggu makan malam. Akhirnya selepas sholat, ia memutuskan menaiki motornya dan keluar membeli soto yang diminta ibunya.

Jaka yang sudah pulang membeli soto berharap ibunya segera bangun dan siap menyantap soto. Ternyata harapanya nihil, ibunya masih terkulai lemas menahan sakit kepala. Mukena dan sajadah masih berantakan di kamarnya. Segelas air jeruk yang ia buatkan untuk ibunya juga belum berkurang. Jaka terlihat sedih dan bertanya kepada ibunya, ” Bu, ibu kenapa? Masih sakit yaa? Jaka ambilin makan yaa ”
Sambil merintih ibu menjawab, ” Nggak usah le, kepala ibu rasanya sakit nanti kalau pengen makan ibu ngambil sendiri”
Jaka hanya terdiam sambil menghela nafas, ” Iya bu, tapi air jeruknya diminum dulu yaa”

Malam itu semenjak meninggalkan kamar ibunya, hati Jaka seperti teriris. Dia mengingat semua pengorbanan ibunya, dia menyadari ibunya sudah terlalu lelah. Dia sadar dia bukan lagi jagoan yang diimpikan ibunya dulu, dia hanya pecundang yang tak tahu berterima kasih. Dia hanya terdiam melihat kedua adiknya yang masih menikmati mangkuk sotonya. Dia pergi ke dapur melihat tumpukan piring dan perabot dapur di dalam bak cuci piring. Jaka hanya terdiam, membayangkan ketika ada ibunya. Kalau saja ibunya sehat pasti tumpukan piring itu sudah lenyap. Dia berjalan menuju tumpukan piring dan menyucinya satu per satu. Jaka mulai mengerti, dia sudah melewati batas. Dia bukan lagi jagoan malam ini, dia hanya beban.

Tumpukan piring itu sudah bersih sekarang, Jaka berjalan menuju adek kecilnya Jana, dan berbisik ke telinganya. Jaka kemudian meminta Joni mengantar adek bungsunya ke kamar ibu. Jana kecil yang masih diliputi rasa takut perlahan menaiki ranjang ibunya lalu berbisik, ” Bu..Ibu, Jana minta maaf yaa sudah nakal “

Semoga belum terlambat bagi mereka untuk menjadi jagoan 🙂

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2012 in Cerita Hidup

 

3 Jagoan (1)

Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.30, seorang wanita berjalan cepat ke arah dapur dengan menenteng panci berisikan beras. Mereka menyebut wanita itu sebagai ibu. Wanita yang selalu menyiapkan kebutuhan anak-anaknya dari sejak pagi itu tak pernah bangun terlambat. Sambil menggoreng lauk, beliau selalu berteriak kencang, ” Bangun le, sudah subuh mau sholat jam berapa sampeyan?”
Sebut saja Jaka, anak sulung dari 3 bersaudara ini termasuk anak pemalas. Usianya yang sudah menginjak kepala dua tidak membuat jaka sadar akan peran ibunya di rumah. Mendengar teriakan ibunya dari dapur, matanya mulai terbuka dan menatap jam dinding. Kelopak matanya serasa sangat berat membuat ia hanya berpindah posisi dari tempat tidurnya. Sambil bergumam, “bentar bu, 5 menit lagi”
Oh ya, masih ada satu lagi onggokan daging besar yang masih terlelap. Teriakan ibu yang begitu keras dan terdengar sampai tetangga tidak membuatnya bergerak sedikitpun. Joni, anak kedua yang sudah menginjak Sekolah Menengah Atas, tapi tingkah lakunya masih saja seperti anak kecil yang harus dituntun berjalan. Dia tidak akan bangun sebelum tangan atau benda keras menyentuh pahanya. Ketika mata itu sudah menutup, dia benar benar menjelma layaknya seorang yang tuli sekaligus bisu.
Jatuhnya buah tidak pernah jauh dari pohonya, Jana yang baru berusia enam tahun juga tak mau kalah dengan dua kakaknya. Si kecil ini sebenarnya paling jago kalau harus bangun lebih awal. Hanya saja pelukan Joni yang satu tempat tidur denganya membuat dia ikut terlarut dalam dengkuran Joni. Jangan tertipu dengan kelucuan Jana yang masih berumur 6 tahun, Jana lebih hiperaktif dari kedua kakaknya. Ibu sedikit terlena mendidik anak bungsunya, bahkan terkadang ibu harus sedikit keras mendidik Jana.

Kebiasaan di pagi hari itu belum berhenti sampai sekarang, bahkan Jaka terbiasa tertidur ketika ibu dan dua adiknya harus berangkat ke sekolah. Jaka yang malang, usianya sudah kepala dua dan lulus dari sebuah perguruan tinggi, tapi dia belum mendapatkan pekerjaan. Mungkin panggilan kerja itu masih ditahan oleh pemegang kuasa. Tepat pukul 8.00 , Jaka mulai bangun dari tempat tidurnya. Melakukan aktivitas seperti biasa, menjemur pakaian dan menanti adeknya Jana pulang kemudian menjemputnya.

Melihat jam dinding, Jaka tersadar kewajibanya menjemput adiknya Jana. Jana yang masih berusia 6 tahun bukan tanpa masalah, dia sudah dua kali pindah sekolah. Bukan karena bolos atau di-skors, tapi Jana belum berkeinginan untuk masuk Sekolah Dasar. Dunianya hanya untuk main dan main setiap hari. Bahkan ketika Jaka bertanya kepada Jana, ” Dek, kamu kalo uda gede mau jadi apa? ” Jana yang masih berusia 6 tahun itu menjawab dengan tegas ” Aku mau jadi angry bird mas, mau jadi ultraman”
Jana duduk di bangku sekolah dasar bersama ibunya di salah satu sekolah swasta. Ibunya mengajar di sekolah itu dari pagi hingga siang hari. Bukan Jana kalau tidak membuat ulah. Siang itu Jaka yang menjemput Jana di sekolahnya terlihat bingung. Bekas air mata nampak menempel di pipi Jana dan ibu tidak mengucap sepatah katapun kepadanya. Jana kecil hanya terdiam sambil sesenggukan dengan menenteng beberapa lembar hasil ujian tengah semester yang akan dia tunjukkan kepada Jaka………..

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2012 in Cerita Hidup