RSS

Monthly Archives: September 2012

Jangan Pelit Nanti Kuburanmu Sempit!

 

Jangan pelit nanti kuburanmu sempit!
Mungkin kita pernah mendengar sepotong kalimat tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebuah kalimat yang memberikan berbagai penafsiran bagi pendengarnya. Ada pendengar yang peduli dengan terus mencari informasi tentang kebenaran kalimat itu dan ada pendengar yang masa bodoh terhadap kalimat yang menurut mereka kalimat yang tak masuk akal.

Saya rasa semua agama pasti menganjurkan kita untuk berbagi terhadap sesama. Berbagi dalam hal kebaikan yang semestinya memberikan manfaat kepada orang lain. Begitu juga dengan islam yang menganjurkan kita untuk berbagi dengan sesama dalam segala aspek kehidupan. Bahkan sebuah kebiasaan yang sama sekali tidak menguras tenaga dapat dihitung sebagai sedekah. Senyum merupakan kebiasaan yang kita lakukan setiap hari dan memberikan nilai luar biasa bagi diri kita dan orang lain.

Cukupkah dengan senyum tiap hari? Saya rasa senyum bukanlah solusi paling tepat untuk memberikan manfaat besar bagi orang lain. Kita harus berbagi, memberikan sebagian tenaga, materi dan pikiran kita untuk orang lain. Dengan berbagi kita akan menemukan kebahagaiaan jiwa yang selama ini kita cari. Saya akan sedikit berbagi motivasi agar kita lebih enteng sedekah/berbagi :

Pertama, selalu ingat bahwa tabungan kita yang sejati bukanlah tabungan deposito, tabungan bank atau tabungan lainya. Tabungan kita yang sejati adalah tabungan akherat, menabung di akherat tidak membutuhkan bank atau lembaga keuangan yang lain. Setiap kita berbagi, memberi nasi, memberi uang, memberi benda berharga yang paling anda sukai kepada orang yang membutuhkan itulah tabungan akherat.

Kedua, selalu ingat ganjaran yang akan diberikan oleh Allah ketika kita mau berbagi di jalanNya, ibarat sebuah biji yang menumbuhkan 7 tangkai dan tiap tangkai menghasilkan 100 butir. Betapa besar ganjaran yang diberikan oleh Allah, apa g sayang tuh kalo dilewatin begitu saja?

Ketiga, sedekah yang kita lakukan bukan lantas berakhir sia sia, pernahkah anda mendengar bahwa sedekah itu pelebur dosa? pernahkah anda mendengar sedekah itu penolak bala? Saya rasa hal itu ada benarnya, silakan mengecek dalam Al quran atau Hadits, bahwa sedekah itu mampu meleburkan dosa dan menolak bencana. Bayangkan bila dosa dan bencana itu terhapus dengan mudahnya dengan sedekah dn ridloNya, mudah bukan?

Buang jauh jauh perasaan harta akan berkurang ketika kita berbagi atau bersedekah dengan orang lain, Allah yang akan mencukupkan kita dengan semua kekuasaanNya. Kuncinya hanya yakin dan praktekkan 🙂

 

 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 19, 2012 in Pegangan Hidup

 

Belajar dari Ulat

Sebuah kata yang mungkin sudah lama terdengar semenjak kita masih duduk di bangku sekolah dasar, metamorfosa. Sebuah kata yang sering kita terjemahkan sebagai perubahan bentuk kehidupan serangga  dalam mencapai wujud kesempurnaan.Tanpa disadari manusia juga mengalami ‘metamorfosa’, sebuah perubahan kehidupan yang tak bisa kita tolak. Metamorfosa yang dialami manusia tak terlihat signifikan layaknya ulat yang menjadi kupu – kupu. Namun jiwa dan pemikiran  yang terbentuk melalui tahapan atau proses metamorfosa yang membuat manusia mendapatkan hasil yang berbeda dari proses metamorfosa. Seekor ulat yang hanya mampu menghabiskan hidupnya untuk makan dan merugikan manusia, menjelma menjadi seekor kupu kupu yang indah dan bermanfaat dalam proses penyerbukan. Bukan Om Jin dari lampu ajaib yang mampu merubah ulat seketika menjadi kupu – kupu, proses kepompong dan kehendakNya yang turut bercampur. Seekor ulat rela menahan nafsu berminggu minggu demi mendapatkan wujud kupu – kupu.

Bukan hal yang hina bila kita belajar dari ulat dalam hal positif, belajar kebaikan dari makhlukNya juga membuat manusia lebih mengerti dan menerima. Layaknya ulat, seorang manusia bahkan mampu mencapai bentuk kehidupan yang lebih baik. Bila ulat mampu berpuasa mengapa kita tidak? Bila ulat mampu bersabar mengapa kita tidak? Bila ulat mampu menahan nafsu mengapa kita tidak? Seharusnya kita malu bila kalah dengan seekor ulat yang sebenarnya tidak dikaruniai akal. Seorang yang besar juga berasal dari ujian yang berat. Selalu banyak hikmah yang kita dapat dari setiap proses “metamorfosa”,

hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih baik,
hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih mulia di hadapanNya,
hikmah untuk menjadi seseorang yang lebih bermanfaat untuk orang lain 🙂

Bukan berniat menggurui, saling berbagi dan memahami selalu lebih indah. Selamat belajar dari ulat dan selamat bermetamorfosa saudaraku 🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 16, 2012 in Pegangan Hidup

 

Bukan Layaknya Pilihan Ganda

Hidup selalu disertai banyak pilhan dan kesempatan yang menentukan arah. Menentukan sebuah pilihan bukan persoalan gampang layaknya memilih butiran butiran pilihan ganda yang diberikan oleh penguji. Kita bisa saja memilih jawaban dalam soal ujian dengan menghitung kancing kemeja , tapi resiko terburuk yang kita hadapi adalah bersiap untuk melihat tinta merah menghiasi lembar jawaban. Namun bagaimana dengan pilihan hidup? Bisakah dengan menghitung kancing baju? Hanya tinta merahkah resiko yang kita terima?

Allah memberikan kita akal pikiran dan nafsu. Dalam memilih, kedua hal ini selalu ikut terlibat. Tak bisa dipungkiri manusia bisa memilih sesuai insting nafsunya atau menimang nimang dengan akal sehatnya. Setiap pilihan memiliki resiko, entah itu pilihan yang baik atau buruk. Kita sendiri yang akan menilai ketika pilihan itu berbuah manis atau pahit. Ketika pilihan itu sudah dibuat ada beberapa dampak yang mungkin bisa saya bagikan terhadap pembaca.

Pertama, setelah menimbang dan memutuskan untuk membuat sebuah pilihan. Hidup yang kita jalani terasa semakin lancar dan gampang. Bahkan kita sama sekali merasa tidak menanggung beban. Semua seperti jalan bebas hambatan yang siap melaju kencang dengan kecepatan minimal 60 km/jam. Tentu kondisi seperti inilah yang kita inginkan. Pilihan yang kita buat seolah sudah tepat dan membuat arah hidup kita semakin sesuai dengan rencana rencana yang kita buat. Mungkin dalam hati kita sudah terbesit “Pilihanku selaras dengan pilihanNya”

Kedua, ibarat koin logam yang selalu memiliki 2 buah sisi, pilihan yang kita buat juga dapat berdampak sebaliknya. Lingkungan seolah menolak mentah mentah pilihan itu, semua jadi serba sulit. Bukan lagi jalan bebas hambatan yang terlihat, melainkan sebuah jalan yang penuh karang dan jurang. Lantas apa ini berarti pilihan kita salah? Rencana Tuhan tidak semudah itu kita terka dan langsung memanen jawaban. Kita diberikan akal, tapi ilmu yang kita miliki masih terbatas, dan sangat jauh bila dibandingkan denganNya.
Ketika menghadapi situasi seperti ini, jangan pernah memvonis pilihan kita salah. Nikmati proses yang merupakan resiko pilihan kita. Percaya jika Tuhan punya misi indah dari semua pilihan ini. Ada beberapa kemungkinan ketika kita diberikan jalan yang penuh karang dan jurang, kemungkinan pertama karena memang Tuhan ingin menguji kesabaran dan meningkatkan derajat kita dihadapanNya, toh Tuhan lebih tahu kemampuan hambaNya untuk menghadapi ujianNya. Kemungkinan kedua, karena memang Tuhan ingin menunjukkan jalan yang benar kepada kita, Tuhan bisa saja mengingatkan kita melalui berbagai kesulitan dan cobaan. Bersyukur ketika kita masih diingatkan, bayangkan bila semua sudah menjadi bubur. Tuhan meminta kita untuk segera berubah, Tuhan meminta kita untuk jauh dari bahaya yang kita buat sendiri.

“Rambu” itu bisa kita rasa, mungkin bintik bintik hitam yang membuat semuanya seperti tertutup. Jangan sampai hati ini mati, kenali dan nikmati prosesnya. Memilih itu pasti, namun hanya Tuhan yang tahu pilihan itu selaras dengan takdirNya. Semoga bermanfaat 🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2012 in Pegangan Hidup

 

Tali dengan Simpul

Ibarat materi mungkin bak tali yang saling terhubung oleh simpul

Membelit antara tali yang satu dengan yang lainnya

Terhubung antara simpul satu dengan yang lainnya

Tak perduli betapa kuat dan rumitnya sebuah simpul

Tali akan selalu mengencang dan mengendur menuruti perintah simpul

Begitu juga dengan sebuah hubungan maupun ikatan….

Ketika sebuah hubungan itu terjalin dari sebuah ketulusan

dan ketika sebuah hubungan itu terjalin dari sebuah kedekatan

Ikatan itu akan menumbuhkan rasa

Ibarat tali yang terhubung oleh simpul

Membentuk sebuah ikatan dengan keluarga

Mencipta ikatan dengan orang orang yang kita sayangi

Ikatan itu kita yang cipta

Ikatan itu kita yang rasa……….

 
1 Comment

Posted by on September 13, 2012 in sentuhan malam