RSS

Monthly Archives: January 2012

Seorang Ayah, Anak dan Kereta Dorong

Entah apa lagi yang ingin ditampakkan olehNya, Entah apa lagi jalan yang ingin ditunjukkanNya, Entah apa lagi cahaya yang ingin disampaikanNya…..

Sudah lebih dari triwulan saya pindah kosan dekat mushola kecil ini. Namun tiap kali menyempatkan bersujud di rumahNya, saya masih kurang peka terhadap orang-orang di sekitarnya. Hingga sampai pada suatu ba’da isya, saya baru menyadari sesuatu. Dalam sebuah musholla yang sederhana itu, terdapat seorang Bapak dan anaknya yang kurang lebih masih duduk di sekolah dasar. Mereka terlihat rutin untuk meramaikan sholat berjamaah dan saya salah satu orang yang sangat kagum dengan pasangan ini. Ketika maghrib tiba, dengan mengendarai sebuah motor mereka menuju rumah Allah dengan senyum dan tawa dari anaknya. Tiap kali berhenti di depan musholla, seorang ayah selalu tersenyum sambil mengambil sandal milik anaknya kemudian ia menggendong anaknya untuk masuk ke musholla mengikuti sholat berjama’ah. Sebuah keluarga yang terlihat kompak dan harmonis 🙂

Hal ini terus terjadi berulang kali setiap mereka meramaikan rumah Allah. Namun ketika adzan berkumandang menunjukkan waktu isya, saya sedikit terkejut saat si Bapak menaikkan anaknya pada sebuah kereta bayi dan mendorongnya sampai ke depan musholla. Si anak yang didorong ayah pun tertawa lebar seolah ia berada pada sebuah kendaraan yang kencang dan aman bersama ayahnya. Sesampainya di depan musholla, ayah melepas tali pinggang di kereta bayi yang mengikat anaknya kemudian mengangkat anaknya untuk berjajar dengan shof shof jamaah yang lain. Si anak ternyata tidak berdiri dan hanya duduk bersama shof yang lain. Sempat saya melihat sehabis sholat, si anak merangkak dengan cepat menuju ke pelukan ayahnya agar segera digendong. Keluarga yang bahagia bukan? Saling bersemangat antara ayah dan anaknya untuk berlomba lomba berjama’ah di rumah Allah 🙂

Namun apa anda tidak merasa aneh, kenapa seorang bocah yang mungkin sudah duduk di Sekolah Dasar masih dinaikkan di kereta bayi? Apa anda tidak merasa aneh, kenapa seorang bocah harus didorong dan digendong hanya untuk berjalan ke musholla? Apa anda tidak merasa aneh kenapa seorang bocah seumuran anak Sekolah Dasar harus merangkak untuk digendong di pelukan ayahnya? Kalau anda berpikir itu karena sebuah kekompakan dan kebahagiaan dalam keluarga berarti pemikiran anda meleset. Namun usut punya usut, setelah saya bertanya ke teman sekosan yang sudah lama kos di dekat musholla, ternyata anak itu mengalami penyakit seperti lumpuh. sehingga setiap kali berjalan dia hanya bisa merangkak dan menanti gendongan dari seorang ayah. Namun, tidakkah anda heran ketika yang muncul bukan keluhan? Keduanya masih saling berbagi canda dan senyum. Tak nampak sedikitpun wajah kecewa atau sedih.

Tiada yang dapat menentang ketentuan Allah, ketika Dia sudah berkehendak maka semua akan terjadi. Mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana tekanan yang dialami oleh seorang ayah dan anaknya. Namun yang patut diacungi jempol dan kita teladani, mereka benar benar mampu mengamalkan sabar dan syukur dalam kehidupan mereka. Tak pernah mengeluh ketika Allah memberikan musibah, kuncinya hanya terus bersabar dan masih tersenyum untuk beribadah kepada Allah.

 
2 Comments

Posted by on January 24, 2012 in Cerita Hidup

 

Cinta vs Obsesi

Berbicara mengenai obsesi dan cinta, membuat saya mengingat sebuah novel yang sempat saya baca ketika masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas (SMA). Novel yang terpaksa terbaca ketika salah seorang guru bahasa indonesia meminta untuk meresume dan menceritakan kembali isi novel tersebut. Saya bukan seorang yang terlalu berminat dalam hal membaca buku ataupun novel, bahkan untuk membaca novel saya harus memilih yang benar benar sesuai dengan keinginan dan kondisi saya.

Setiap orang pasti pernah menginginkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Untuk mencapainya, seorang insan pasti mengerahkan segala usaha dan upaya terbaiknya. Bahkan mungkin berkali kali gagal  bukan sebuah masalah yang berat demi tercapainya tujuan tersebut. Itulah obsesi dan cinta. Keduanya tak bisa dipisahkan, keduanya membutuhkan sebuah perjuangan untuk mendapatkannya. Tidak mungkin hanya duduk manis, kemudian obsesi dan cinta datang dan bersanding di samping kita. Terus apa yang mebedakan keduanya??

Sebuah obsesi lahir ketika kita menginginkan sesuatu yang benar benar kita inginkan, lalu dengan bumbu usaha maksimal dan susah payah kita berhasil mendapatkannya. Namun apa yang terjadi setelahnya? Mungkin anda hanya sekedar meletakan dan menyimpanya dalam sebuah lemari kayu dan bisa jadi anda justru hanya tersenyum setelah mendapatkannya lalu anda melupakannya?? Ya, obsesi lahir karena sebuah hasrat yang tinggi namun tanpa ada rasa yang berharga dan berarti setelah kita mendapatkannya.

Lantas bagaimana dengan cinta?? Ketika kita mencintai sesuatu, usaha yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan obsesi. Bahkan kalau disuruh jungkir balik demi cinta, bisa jadi kita langsung melakukannya.hehe…Namun, terdapat perbedaan mencolok antara cinta dan obsesi. Ketika kita mendapatkan cinta, sesuatu itu benar benar berharga buat kita. Bahkan kalaupun sesuatu itu hilang dari kita, akan ada sesuatu yang kurang dalam hidup kita, sesuatu yang membuat kita merasa sedih ketika kehilangan dan sesuatu yang membuat kita benar benar merasa berharga ketika memlikinya. ya itulah cinta, sebuah rasa dan hasrat yang sangat berharga ketika kita telah berhasil mendapatkan dan memilikinya.

 
2 Comments

Posted by on January 22, 2012 in Cerita Hidup

 

Emansipasi Wanita Modern

Istilah emansipasi sudah dikenal sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Sebuah perjuangan untuk menuntut hak pendidikan, hak politik dan persamaan derajat untuk seorang wanita. Pahlawan nasional wanita yang terkenal dengan buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang dan masyarakat mengenalnya dengan sebutan R.A Kartini. Seorang pahlawan yang telah memperjuangkan hak wanita pada saat masa penjajahan dengan gigih dan pantang menyerah. Dia memperjuangkan hak wanita dalam memperoleh pendidikan. Dia memperjuangkan hak wanita dalam memperoleh hak politik. Dia memperjuangkan hak wanita yang dulu selalu dipandang lebih rendah daripada derajat seorang pria. Melalui buku yang ditulisnya dan usaha usahanya, dia mampu mengubah keadaan wanita saat itu. Bahkan pemerintah pun mengakui kegigihan usahanya dengan menetapkan tanggal 21 April sebagai hari Kartini. Tapi itu dulu……

Sedikit kita buka jendela mata, kita lihat keadaan wanita sekitar kita. Banyak wanita yang sudah benar dalam mengartikan makna sebuah emansipasi yang dilakukan R.A Kartini, tapi tidak sedikit juga wanita yang masih salah dalam mengartikan makna emansipasi. Jujur saja, ketika kebosanan muncul, sering saya sempatkan untuk mampir di sebuah warung dekat kosan yang terkenal dengan bubur kacang ijo. Di warung inilah saya mengamati dan melihat sepasang suami istri yang justru saling berbagi sebungkus rokok. Tanpa ada rasa malu   si istri menyalakan rokok di samping suaminya, dan si suami pun tak ada niatan sama sekali untuk mencegah dan justru menikmati canda dan tawa dengan pengunjung warung burjo –” Ketika pengunjung mulai berganti sekelompok remaja wanita, hal ganjil juga masih terjadi lagi. Kali ini seorang perempuan dengan umur yang masih seusia anak SMA dengan tegas mengambil sebuah korek gas, dan menyalakan sebatang rokok yang dimiliki –” . Bahkan tidak sedikit yang mengeluarkan kata kata kotor dengan suara keras. Inikah perilaku wanita  timur yang terkenal sopan dan ramah?

Mungkin urat malu yang sudah diberikan oleh Tuhan, sudah putus oleh perilaku perilaku yang dilakukan manusia. Dan mungkin sebuah pemikiran tentang persamaan wanita dan laki-laki sudah melenceng jauh dari perjuangan Kartini. Yang diperjuangkan R.A Kartini adalah perjuangan hak pendidikan dan hak politik. Seorang wanita diberikan kesempatan untuk duduk dalam sebuah pendidikan tanpa ada batasan gender. Seorang wanita diberikan kesempatan untuk duduk dalam dunia politik tanpa ada batasan gender. Itulah yang ditekankan dalam  perjuangan R.A Kartini, bukan berarti dalam semua aspek perempuan dan laki-laki itu harus sama. Tuhan saja menciptakan laki-laki dan perempuan dengan tujuan mulia, tapi kenapa sebagai makhluk justru kita salah menggunakan tujuanNya?? Sangat disayangkan, Seorang wanita adalah seorang calon ibu. Seorang yang melahirkan anak yang soleh dan solehah seharusnya menjadi kunci dan panutan dalam sebuah keluarga. Ketika seorang calon Ibu sudah buruk perilakunya, sudah sangat jelas kalau anak anaknya juga akan menjadi buruk perilakunya. Jatuhnya buah tidak pernah jauh dari pohonya….

 
2 Comments

Posted by on January 13, 2012 in Cerita Hidup