RSS

Bocah dengan “Jalan Kutu” (1)

22 Dec

Saat hujan dan udara dingin, makanan dan minuman yang hangat memang selalu jadi pujaan. Begitu juga dengan warung Burjo (Bubur Kacang Ijo) yang berdomisili di Jalan Pesantren Tangerang Selatan, tepatnya 50 meter ke arah utara dari sebelah kosan saya. Warung yang mungkin hanya berukuran 2×2 itu sudah memberikan makanan dan minuman lengkap dengan bubur kacang ijo hangat yang menjadi khasnya. Warung warung sederhana seperti ini sering menjadi tempat nongkrong anak muda dan mahasiswa dengan dompet yang tak pernah tebal. Bahkan tanpa dompet pun, kami masih bisa makan dan minum dengan berhutang πŸ˜€

Tak ada yang istimewa dari warung ini, berbekal 2 orang penjual yang saling bergantian melayani pembeli, warung sudah terlihat nyaman, apalagi ditambah dengan televisi layar datar yang terpasang di pojok atas warung tersebut. Namun, pandangan mata saya langsung terfokus pada seorang bocah yang masih berumur 5 tahun yang menemani abang panjual. Rambut pendek, tapi bagian sisi kanan dan kiri rambutnya, dipotong dengan model berbeda, orang bilang sih “jalan kutu” πŸ˜€ .Dengan handphone di tanganya, dia asik memainkan game. Saat itu jam dinding warung sudah menunjukkan pukul 23.30 . Terang saja saya kaget melihat bocah yang mungkin masih berumur 5 tahun, dengan mata lebar dan semangat masih asik menikmati game.

Spontan saya bertanya, “Anaknya jam segini g ngantuk Bang? Kok masih kuat melek?”

Sambil tersenyum abang penjual menjawab, ” Ni anak uda biasa g tidur semaleman bos, paling baru tidur ntar jam 03.00 pagi”

Mendengar jawaban abang penjual, saya yang saat itu bersama 4 orang teman saya, sebut saja Adit, Sigit, Kebo dan Izhar langsung memandang ke arah saya dan melontarkan ejekan. Maklum saja, saya termasuk salah satu mahasiswa yang hobi tidur di kelas saat dosen memulai cerita dongeng :p Nonton bola tengah malam yang sudah menjadi hobi saja, saya masih sering ketiduran, tapi ni anak masih membuka mata lebar sambil menemani ayahnya menjaga warung.

Sambil melahap gorengan, bubur kacang hijau, mie goreng, roti bakar, es teh, dan adem sari kami melewati malam dengan nonton bola di warung tersebut. Bahkan mata kami perlahan mulai berat, namun anak kecil dengan “jalan kutu” di rambutnya ini masih saja aktif bermain di dekat ayahnya. Entah mungkin karena ikatan batinnya dengan orang tua atau mungkin memang insomnia, tapi dalam pandangan positif saya anak sekecil ini sudah melihat kerja keras orang tuanya untuk menghidupinya. Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin saya ketahui dari anak sekecil ini, pasti kedua orang tuanya meninggalkan cerita hebat dibalik kehidupan yang sedikit tidak wajar dari bocah dengan “jalan kutu”.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2011 in Cerita Hidup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: