RSS

Salah Sedekah (2)

02 Dec

Lolos dari petugas dengan mengosongkan isi dompet membuat kami sedikit emosi. Namun kami tak pernah bosan melepas canda melihat hal hal ganjil yang dilakukan petugas. Dengan kondisi kecewa bercampur tawa akhirnya kami sampai di stasiun Senen dan alhamdulillah kami berhasil mendapatkan 4 tiket kereta ekonomi tujuan Semarang.

Sekarang fokus kami segera kembali kekosan dan bersiap untuk berangkat lagi ke Senen ba’da magrib. Mengingat saya belum sempat packing dan kereta berangkat pukul 21.30 , saya pun menambah kecepatan motor tua. Bukan Jakarta bila tidak macet, polusi udara dan polusi suara tak pernah lepas dari jalanan kota Jakarta.

Ketika sudah sampai di Jakarta bagian selatan, kami sudah masuk waktu magrib. Namun bila perjalanan lancar, paling tidak sebelum isya kami sudah sampai kosan. Yang namanya kehendak manusia, tentu saja berbeda dengan kehendak Tuhan, kita boleh berkehendak namun yang terjadi tetaplah kehendak Tuhan. 

Dengan perkiraan yang mungkin 15 menit sudah sampai di tempat kosan. Tanpa disadari motor tua yang saya kendarai bergoyang, kami sempat mengira goyangan itu hanya karena sebuah polisi tidur. Namun, ketika lalulintas sudah lancar, goyangan motor semakin kencang, dan sudah diduga ban belakang kami bocor (-.-“) Mengingat waktu yang sudah mepet, sebenarnya saya hanya meminta untuk tambah angin, tapi sekali lagi kehendak saya mentah begitu saja. Pentil dari ban belakang motor ternyata sudah copot, sehingga harus dipastikan untuk mengganti ban dalam T.T Keluarlah selembar berwarna hijau, ungu dan coklat dari dalam dompet yang sudah tipis. Kali ini saya tidak lagi bersedekah ke petugas, tapi kepada seorang tambal ban -.-”

Perjalanan terus berlanjut dengan semakin macetnya kota jakarta. Dengan padatnya lalu lintas, hujan pun ikut meramaikan suasana hati kami yang pilu. Entah, hujan bermaksud ikut menangis karena keadaan kami atau mungkin hujan justru tertawa terbahak bahak sampai airnya turun membasahi kami. Sambil kehujanan otak kami terus berpikir agar lepas dari kemacetan ini, kami pun mencari sebuah jalan pintas yang biasanya memang selalu lancar dan alternatif yang paling tepat. Namun, perkiraan tak selamanya benar, jalan alternatif yang kami anggap cepat itu, justru diisi oleh pasar dengan mobil pick up macet di depannya T.T Otak kami sudah mampet untuk mencari alternatif lain, kuncinya hanya sabar dan merenungi nasib. Saat itu kami baru sampai d kosan sekitar pukul 19.00 dan terpaksa harus patungan taksi agar tidak ketinggalan kereta.

Manusia tidak pernah tahu kehendak TuhanNya. Manusia hanya perwujudan seorang hamba. Sebagai hamba yang baik, kuncinya adalah sabar dan bersyukur. Sabar ketika Allah memberikan musibah dan bersyukur ketika Allah memberikan nikmat 🙂

Advertisements
 
 

4 responses to “Salah Sedekah (2)

  1. Nurul imut

    December 2, 2011 at 12:26 pm

    Bertubi-tubi ya.. (っˆヮˆ)っ

     
  2. argyadiptya

    December 2, 2011 at 1:19 pm

    hebat-hebat

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: