RSS

Monthly Archives: December 2011

Penerapan Prinsip Dasar Akuntansi dalam Sebuah Keseimbangan Hidup

Akuntansi, sebuah mata pelajaran yang sebenarnya sudah didapatkan ketika seseorang menginjak pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Bagi orang awam yang mendengar kata akuntansi, yang terbayangkan di pikiran mereka pasti hitungan tentang keuangan. Padahal, akuntansi merupakan sebuah mata pelajaran yang tidak sekedar mencatat keluar masuknya uang dari seorang bendahara. Diperlukan sebuah standard yang mengatur seluk beluk akuntansi. Seorang akuntan diharuskan memiliki ketelitian dan kesabaran untuk menginput setiap unit transaksi yang terjadi sehingga pihak pihak yang berkepentingan mampu memahami laporan keuangan yang dihasilkan. Akuntansi yang terkenal dengan istilah “Debit dan Kredit” memiliki sebuah persamaan simpel yang memandu tiap akuntan dalam menyusun laporan keuangan yaitu, “Harta= Hutang+Modal” . Namun yang akan saya bahas bukan masalah persamaan akuntansi atau sejarah isitilah debit dan kredit, sebuah prinsip dasar yang tak kalah penting yaitu “Balance”

Balance atau yang lebih sering kita dengar dalam sebuah istilah bahasa indonesia yaitu seimbang, sering menimbulkan problem dalam sebuah proses akuntansi. Balance untuk sebuah proses akuntansi adalah proses perhitungan dengan menunjukkan nilai yang sama dalam sisi kolom debit (kiri) dan kredit (kanan). Namun, balance yang saya bahas bukan pengertian khusus dalam sebuah pengertian akuntansi. Balance yang saya maksud adalah keseimbangan hidup. Ketika berbicara masalah keseimbangan hidup, yang terlihat dari sudut pandang saya adalah sebuah keseimbangan lahir dan batin. Keseimbangan lahir berkaitan dengan pekerjaan, keluarga dan masyarakat sedangkan Keseimbangan batin berkaitan dengan hati dan hubungan kita dengan Tuhan.

Keseimbangan lahir mungkin lebih terlihat dalam kehidupan kita di dunia. Ketika anda sibuk dengan pekerjaan dan tugas anda, akan timbul sebuah keseimbangan bila anda mampu membagi waktu dengan tepat untuk menyelesaikanya. Ketika kita sibuk dalam sebuah masyarakat dan organisasi, akan timbul sebuah keseimbangan bila anda mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan anda menjadi pribadi yang ramah dan disukai banyak orang. Begitu juga ketika berada dalam sebuah keluarga, bagaimana kita menerapkan peran kita dalam keluarga sangatlah penting. sebagai contoh seorang kakak yang mampu memberikan teladan yang baik untuk adiknya juga menciptakan sebuah keseimbangan dalam keluarga.

Keseimbangan batin merupakan keseimbangan yang berkaitan dengan hati, keseimbangan yang timbul ketika hati ini merasa hidup. Hati yang hidup adalah hati yang gemar akan ilmu, hati yang lunak dan siap menerima nasehat ketika kita berada di jalur yang salah. Bukan hati yang keras saat kita beradu argumen, bukan hati yang mati dan cuek melihat keadaan sekitar. Namun, hati yang selalu lapang memaknai setiap kejadian yang terjadi dengan berkordinasi dengan akal untuk menciptakan sebuah hikmah yang lebih bermanfaat dalam hidup. Keseimbangan hati tak akan pernah bisa diraih ketika kita terus menyibukkan dalam kehidupan dunia, keseimbangan yang ini bisa kita raih ketika kita lebih menyibukkan hubungan kita dengan Tuhan. Satu yang harus kita ingat untuk menimbulkan keseimbangan ini, usaha maksimal yang kita lakukan bukanlah kita penentunya, tapi Tuhan yang berhak menentukan hasilnya. Dengan pasrah atas usaha maksimal yang kita lakukan maka keseimbangan batin akan terwujud dengan sendirinya ๐Ÿ™‚

Sedikit penafsiran saya tentang makna balance dalam akuntansi yang bisa kita aplikasikan dalam sebuah kehidupan. Terkadang memang sulit memahami jalan yang dkehendaki Tuhan, isitiqomahkan dalam mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan akan selalu memberikan jalan yang terbaik untuk hambaNya yang baik. Jalan yang bengkok pun akan selalu terlihat lurus ketika anda mulai mengerti maksud Tuhan yang ditakdirkan kepada anda ๐Ÿ™‚

-Dunia —- Akuntansi —- Agama-

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on December 24, 2011 in Cerita Hidup, Pegangan Hidup

 

Bocah dengan “Jalan Kutu” (1)

Saat hujan dan udara dingin, makanan dan minuman yang hangat memang selalu jadi pujaan. Begitu juga dengan warung Burjo (Bubur Kacang Ijo) yang berdomisili di Jalan Pesantren Tangerang Selatan, tepatnya 50 meter ke arah utara dari sebelah kosan saya. Warung yang mungkin hanya berukuran 2×2 itu sudah memberikan makanan dan minuman lengkap dengan bubur kacang ijo hangat yang menjadi khasnya. Warung warung sederhana seperti ini sering menjadi tempat nongkrong anak muda dan mahasiswa dengan dompet yang tak pernah tebal. Bahkan tanpa dompet pun, kami masih bisa makan dan minum dengan berhutang ๐Ÿ˜€

Tak ada yang istimewa dari warung ini, berbekal 2 orang penjual yang saling bergantian melayani pembeli, warung sudah terlihat nyaman, apalagi ditambah dengan televisi layar datar yang terpasang di pojok atas warung tersebut. Namun, pandangan mata saya langsung terfokus pada seorang bocah yang masih berumur 5 tahun yang menemani abang panjual. Rambut pendek, tapi bagian sisi kanan dan kiri rambutnya, dipotong dengan model berbeda, orang bilang sih “jalan kutu” ๐Ÿ˜€ .Dengan handphone di tanganya, dia asik memainkan game. Saat itu jam dinding warung sudah menunjukkan pukul 23.30 . Terang saja saya kaget melihat bocah yang mungkin masih berumur 5 tahun, dengan mata lebar dan semangat masih asik menikmati game.

Spontan saya bertanya, “Anaknya jam segini g ngantuk Bang? Kok masih kuat melek?”

Sambil tersenyum abang penjual menjawab, ” Ni anak uda biasa g tidur semaleman bos, paling baru tidur ntar jam 03.00 pagi”

Mendengar jawaban abang penjual, saya yang saat itu bersama 4 orang teman saya, sebut saja Adit, Sigit, Kebo dan Izhar langsung memandang ke arah saya dan melontarkan ejekan. Maklum saja, saya termasuk salah satu mahasiswa yang hobi tidur di kelas saat dosen memulai cerita dongeng :p Nonton bola tengah malam yang sudah menjadi hobi saja, saya masih sering ketiduran, tapi ni anak masih membuka mata lebar sambil menemani ayahnya menjaga warung.

Sambil melahap gorengan, bubur kacang hijau, mie goreng, roti bakar, es teh, dan adem sari kami melewati malam dengan nonton bola di warung tersebut. Bahkan mata kami perlahan mulai berat, namun anak kecil dengan “jalan kutu” di rambutnya ini masih saja aktif bermain di dekat ayahnya. Entah mungkin karena ikatan batinnya dengan orang tua atau mungkin memang insomnia, tapi dalam pandangan positif saya anak sekecil ini sudah melihat kerja keras orang tuanya untuk menghidupinya. Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin saya ketahui dari anak sekecil ini, pasti kedua orang tuanya meninggalkan cerita hebat dibalik kehidupan yang sedikit tidak wajar dari bocah dengan “jalan kutu”.

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2011 in Cerita Hidup

 

Durian dan Singkong

Suatu ketika sepasang suami istri berencana untuk berkunjung ke rumah seorang kyai. Mereka berniat membawa seikat singkong ke rumah kyai. Sesampainya di rumah kyai, mereka terlihat akrab dan saling melontarkan canda tawa.Bahkan karena keakrabanya itu, saat obrolan tengah berakhir kyai meminta istrinya untuk mengambil durian yang ada di dapur. Kyai akan memberikan durian kepada pasangan suami istri tersebut dengan teriring doa semoga silaturahmi mereka mendapat balasan yang setimpal oleh Allah SWT.

Dalam perjalanan pulang, pasangan suami istri tersebut bertemu si A. Tertegun melihat durian yang dibawa pasangan suami istri tersebut, si A spontan bertanya darimana asal durian tersebut. Dengan kalem si suami menjelaskan kalau dia baru saja silaturahmi ke rumah kyai dengan membawa seikat singkong. Sambil berjalan meninggalkan pasangan suami istri tadi, si A heran dan terus berpikir. Kalau hanya dengan membawa seikat singkong bisa mendapat durian, bagaimana kalau si A membawa durian?? Tentu Pak Kyai akan memberikan sesuatu yang lebih baik dan berharga. Harapan si A terhadap pak Kyai begitu besar, dan akhirnya dia memutuskan membeli durian dan membawanya ke rumah Pak Kyai.

Dengan menenteng durian di tanganya, si A pergi ke rumah Pak Kyai penuh semangat. Sesampainya di rumah Pak Kyai, mereka pun ngobrol dengan akrab. Namun istri pak Kyai sedikit kebingungan, ketika pak Kyai memintanya untuk mengambil sesuatu yang ada di dapur sebagai imbalan atas durian yang diberikan si A. Bagaimana tidak bingung, jika yang ada di dapur hanya seikat singkong pemberian suami istri kemarin. Akhirnya setelah bermusyawarah, pak Kyai dan istrinya sepakat memberikan seikat singkong tadi. Toh, pemberian seikat singkong masih lebih baik daripada tidak memberikan balasan apapun, selain itu hanya seikat singkong yang saat itu dimiliki keluarga pak Kyai.

Setelah berpamitan dari rumah pak Kyai dan membawa bungkusan imbalan, Si A semakin yakin kalau bungkusan itu lebih bernilai daripada yang dibawa suami istri kemarin. Namun betapa kagetnya si A, ketika ia membuka bungkusan itu dengan semangat, yang terlihat hanya seikat singkong ย dalam bungkusan itu. Hati yang penuh semangat itu pun seolah menciut tanpa sisa. si A akhirnya hanya bisa pasrah sambil menikmati singkong pemberian pak Kyai ๐Ÿ˜€

Jangan pernah memberikan harapan yang terlalu tinggi kepada manusia,manusia bisa benar dan bisa salah, Namun berharaplah kepada Allah yang tidak pernah salah

 
Leave a comment

Posted by on December 16, 2011 in Pegangan Hidup

 

Bisikan dan Tipu Daya

Entah sebuah penyakit atau kebiasaan buruk yang sudah menempel,

Kelopak terasa berat ketika “curhat” sudah dimulai

Mata dan telinga seolah sudah terbius oleh alunan dongeng

Kebosanan menjadi perpaduan bumbu yang pas dalam ruangan

Ketika mimpi mulai menjamah dan berkuasa atas alam sadar,

Niat mulia dari awal seolah pupus tanpa sisa……..

 

“Curhat’ yang terhenti, membuat mimpi ikut tertunda

Kelopak yang semula berat terasa ringan tanpa beban

Jenuh dan penat mulai menghilang

Namun, alam sadar mulai berfikir dan bekerja…..

Malas dan kantuk yang diberikan adalah sebuah bisikan..

Malas dan kantuk yang diberikan adalah sebuah tipu daya…

Tipu daya yang memang tak pernah lepas dari manusia

Tipu daya yang hanya berlaku bagi orang orang hina seperti kita..

Ketika,niat dan kebaikan menuntut ilmu hanya tertutup oleh sebuah bisikan dan tipu daya…..

 

 
3 Comments

Posted by on December 15, 2011 in Others

 

Sejenis tapi Berbeda

Jenjang pendidikan selalu menarik untuk dibahas dalam kalangan masyarakat yang sudah berkeluarga. Banyak orang tua yang berharap kepada anak anaknya untuk mendaftar di sebuah sekolah yang menawarkan kualitas pendidikan dan fasilitas yang terbaik. Bahkan hampir setiap orang berpendapat bahwa, dengan ditunjangnya kualitas pembimbing dan fasilitas yang menarik, akan membuat perkembangan siswa semakin maksimal. Banyak sekolah yang telah menawarkan kualitas pendidikan dan fasilitas seperti itu, namun saya tidak akan membahas mewahnya fasilitas atau biaya kuliah, saya hanya sedikit berbagi pandangan tentang perbedaan karakter mahasiswa yang teramati antara Sekolah Kedinasan (STAN) dengan universitas universitas ternama di indonesia.

————————————————————–

Kemeja polos dan celana kain selalu menjadi modal

Tak peduli sepatu hitam atau berwarna

Kuliah sudah menjadi kewajiban dan rutinitas

Sementara itu….

Tumpukan baju dalam sebongkah brankas kayu

Membuat hati tak tentu memilih baju

Melihat tumpukan sepatu

Membuat hati, pakaian, dan sepatu seolah ‘diwajibkan’ dalam sebuah kombinasi yang pantas

——————————————————

Motor sudah menjadi pujaan sebagai tunggangan

Dengan besi tua dan sedikit kayuhan juga bukan suatu problema

Bahkan berjalan di bawah teriknya matahari sudah terlihat keren

Sementara itu….

Teriknya matahari membuat bongkahan besi berkilau harus keluar dari garasi

Motor sudah menjadi hal yang lumrah

Daripada lelah mengayuh, jalan kaki atau angkot lebih menjadi pilihan

————————————————-

Organisasi bukan pilihan utama

akademis menjadi tumpuan perkuliahan

olahraga menjadi hiburan akhir pekan

Sementara itu…

Eksistensi dan organisasi bukan hanya sekedar bumbu perkuliahan

Jas almamater bukan hanya sebagai hiasan almari

Berani beraksi dan beraspirasi di depan publik

—————————————————————–

Istilah rumput tetangga yang lebih indah mungkin sedikit ada benarnya. Ketika kita melihat tanpa rasa syukur, yang nampak hanyalah iri dan dengki. Namun, saat kita belajar menerima dan mensyukuri keadaan di sekitar kita, akan terlihat kelebihan – kelebihan yang jauh lebih bernilai. Ambil positifnya dan buang negatifnya, kesederhanaan dalam sebuah wujud rasa syukur itu sebenarnya lebih indah dan nyaman.

 
4 Comments

Posted by on December 15, 2011 in Cerita Hidup

 

Nikmatnya Kuliah dengan Alam

Kuliah pagi merupakan momok bagi orang-orang yang suka beraktivitas di malam hari. Begitu juga dengan ย  saya yang selalu lebih senang menikmati suasana malam daripada pagi. Kuliah yang dimulai pukul 08.00 selalu membuat saya seperti kehilangan waktu untuk mandi dan makan. Namun keterlambatan bukan sebuah beban bagi saya, mengingat watak dosen yang berbeda membuat saya terkadang lebih santai untuk mengikuti perkuliahan.

Kuliah hari ini sedikit berbeda, saya yang terbiasa santai untuk terlambat, sempat kaget melihat teman teman bergerombol di luar ruangan kelas.Hal yang ganjil selalu membuat seseorang berprasangka bermacam macam. Begitu juga dengan saat itu, berbekal prasangka buruk ternyata menjadi kenyataan. Teman teman itu merupakan korban dari kedisiplinan dosen, mereka ternyata bernasib sama seperti saya, terlambat.

 

Saya sedikit tidak percaya, mengingat dosen yang satu ini selalu melempar canda tawa saat perkuliahan.ย Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba masuk dulu, siapa tau tampang innocent saya membuat dosen percaya ๐Ÿ˜€ Berbekal senyum dan secuil kepercayaan diri, saya mengetuk ruang kelas dan mulai melangkahkan kaki. Eh, baru maju satu langkah sudah terdengar suara lantang dari dosen, “Keluar dulu mas” Hmm…saya hanya bisa menelan ludah sambil menutup pintu dan berkata “Iya, pak” -_____-“

Kuliah dengan Alam, mungkin itu yang pantas disebut ketika saya dan teman teman harus berada di luar kelas sambil menanti panggilan untuk dipersilakan mengikuti kuliah lagi. Kurang lebih sekitar 1 jam kami ngobrol “ngalor ngidul” bahkan beberapa dari kami saling melempar canda untuk mencari penyebab perubahan mood dari dosen yang begitu signifikan. Bayangkan saja dosen yang biasa bercanda dan jarang on time, tiba tiba menjadi disiplin dan minim senyum.

Setelah menunggu kurang lebih sekitar sejam, kami dipanggil masuk ke ruang kelas. Dan ternyata, teman kami yang lain tengah sibuk mengerjakan kuis dadakan -_______-” Bermodal waktu yang ada dan modul fotokopian, saya dengan santai mengerjakan kuis itu. Ditambah motivasi diri “Kuis itu Santai, Masih Bisa Pas” makin santai saja saya mengerjakan kuis itu. Dan ajaib, saat dikoreksi hasil yang muncul menakjubkan. Angka 30 menghiasi bagian atas lembar halaman ujian saya :s .

Sebuah pengalaman selalu memberikan sebuah hikmah, pengalaman pahit seharusnya menjadikan kita untuk tidak mengulangnya. Sempat tersirat sebuah kata kata dari seorang yang berilmu, “Kalau ingin ilmunya barokah, salah satu caranya adalah mengagungkan ilmu dan mengagungkan guru” Bercermin dengan sikap saya selama ini, jelas saya sedikit meremehkan mata kuliah dan dosen tersebut, saya terlalu tergiur dengan canda tawa yang sering dilontarkan dosen saat kuliah. Mungkin ini sebuah ‘ganjaran‘ bagi saya agar lebih menghormati dosen dan lebih mengerti untuk membedakan mana saat yang serius dan bercanda.

 
8 Comments

Posted by on December 14, 2011 in Cerita Hidup

 

Aku, Perjalananku, dan MakhlukNya (2)

Kebahagiaan dan ketenangan tentu idaman setiap makhluk Tuhan,

Namun…

Kebahagiaan seseorang terkadang berimbas menjadi kebencian seseorang

Kesuksesan seseorang terkadang berimbas menjadi kegagalan seseorang

Ada yang senang, ada yang sedih

Ada yang tertawa, dan ada yang menangis

Begitulah kehidupan,

Ketika seseorang yang datang begitu berarti, dengan senyum dan tawa kita akan menyambutnya…

Ketika seseorang yang berarti itu telah pergi , hanya isak tangis yang menghiasi raut wajah

Padahal siklus kehidupan selalu berisi sebab akibat, namun terkadang kita masih saja lelah dibuat olehnya…

Seharusnya kita perlu membiasakan…

Ketika ada orang lain bahagia, kita ikut bahagia…

Ketika ada orang lain bersedih, kita ikut meringankan bebanya…

Hal yang datang dan pergi di dunia, mari kita tanggapi dengan wajar..

Kita ambil hikmahnya dan kita maknai setiap kejadian yang berarti, sehingga menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa dan selalu dalam perbaikan ๐Ÿ™‚

 
2 Comments

Posted by on December 6, 2011 in sentuhan malam