RSS

Sekolah Akademis atau Sekolah Agama??

27 Nov

Sambil nunggu nobar lazio vs juve bareng temen temen juventini STAN mungkin lebih baik lanjut corat coret πŸ˜€

Mungkin benar kata orang, masa SMA adalah masa yang berkesan dalam perjalanan hidup, namun sebenarnya ketika kita memaknainya setiap periode atau masa pasti mempunyai kesan tersendiri yang tak terlupakan πŸ™‚ Yaa, jujur saja saya termasuk orang yang berkesan dengan pengalaman SMA, proses untuk masuk, saat belajar di SMA dan saat lulus pun semua meninggalkan cerita yang membuat dahi berkerut ataupun senyum melebar πŸ˜€

Dimulai dari proses masuk yang susah lantaran danem saya yang rendah, saya sempat mencoba untuk masuk sebuah sekolah pondokan di Jombang, Darul Ulum. Ketika itu syarat untuk mendaftar di sebuah sekolah favorit Tulungagung cukup menyerahkan ijazah, sementara di jombang harus melalui serangkaian tes IQ dan tes wawancara. Karena sudah membulatkan tekad, saya berangkat ke Jombang untuk mengikuti tes di Jombang dengan berbekal persyaratan daftar ulang dan minimnya pengalaman agama πŸ˜€ Sebenarnya saat itu saya ditemani teman saya yang sudah berpondok di Jombang 3 tahun, namun karena masih anak baru terang saja kaget akan suasana pondok. Sholat Subuh yang di rumah biasanya baru dimulai pukul 05.00, dsini para santri dituntut untuk bangun ontime sesuai dengan adzan subuh. Dan seorang ustadz yang disiplin sudah siap membangunkan para santri dengan membawa pemukul πŸ˜€ Namun untungnya selama disana saya masih konsisten untuk mengikuti aturan :p

Tes tahap pertama yaitu tes IQ berjalan lancar, namun tes kedua yaitu tes wawancara saya sempat diberikan bocoran teman bahwa akan diberikan tes membaca al-qur’an dan menulisnya. Klo membaca itu sudah biasa, namun klo menulis ayat al-qur’an tanpa mengutip?? nyerah deh -.-” Akhirnya saya berinisiatif untuk menghafal penulisan salah satu surat pendek, yaitu surat al-ikhlas πŸ˜€ Begitu tes wawancara dimulai, nervous pasti namun yang namanya rezeki emang g kemana πŸ˜€ Eh, pewawancara langsung ngetes buat nulis surat al-ikhlas, spontan saya tersenyum lebar dan langsung menulis dengan lancar πŸ˜€

Seusai tes yang saya jalani, saya sempat hidup di pondok ini kurang lebih 3-4 hari , lumayanlah buat pesantren kilat πŸ˜€ Mungkin tes bisa lancar, namun pikiran saya masih melayang ke kampung halaman. Terus terbayang dengan danem atau nilai UAN yang serendah itu bisa ga ya ketrima d sekolah favorit….. Jujur saja kehidupan di pondok waktu itu belum membuat saya tertarik, maklum saja saya termasuk orang yang tidak ingin dibatasi dalam tembok. Apalagi setiap kegiatan harus diatur waktunya untuk akademis dan agama, belum lagi untuk hobi saya seperti sepak bola.

Beberapa hari semenjak tes itu berakhir dan pengumuman penerimaan sekolah di Tulungagung telah diputuskan,Β  Saya benar benar kebingungan. Allah menunjukkan kuasaNya, saya diterima di sekolah pondok Jombang dan sekolah favorit Tulungagung (walaupun dengan danem 5 besar terbawah :D) , banyak masukan dari keluarga dan teman yang memberikan komentar positif dari kedua sekolah tersebut. Setelah semedi dan merenung akhirnya saya memutuskan sekolah di kampung halaman sajaΒ  , Pikiran saya masih menuju ke akademis dan ingin hidup bebas πŸ˜€

Berbekal pemikiran pintas untuk memilih akademis dan kebebasan, apakah akan menghasilkan sesuatu yang istimewa nantinya??

Berbekal pemikiran pintas untuk akademis dan kebebasan, apakah memberikan perbedaan dalam hidup saya??

Hanya Allah yang tahu jawaban dari pilihan saya πŸ˜€

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 27, 2011 in Biografi dan keluarga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: