RSS

Titik perjalanan panjang baru dimulai….

26 Nov

Kehidupanku tak hanya berhenti saat aku duduk di sekolah dasar, berlanjut ke tingkat Sekolah Menengah Pertama dan masih dengan hasil didikan yang disiplin dari seorang Umi. Membuat motivasiku seolah semakin tinggi untuk terus menggapai prestasi. Maklum saja, saat masih kecil aku termasuk siswa yang rajin mengambil waktu luang untuk mengerjakan tugas, dan sisa waktu yang ada aku gunakan untuk bermain bola di lapangan dekat rumah. Pada masa inilah aku mulai menjamah lingkungan rumah dan mulai dikenal sebagai anak yang ‘getol’ maen bola sepak πŸ˜€

Walaupun sore hari sibuk di lapangan, namun malam hari selalu Umi mengingatkan untuk belajar dan belajar. Antara rasa takut dan menuruti nasehat Umi, tanpa pikir panjang tiap malam aku sempatkan untuk mengerjakan soal latihan. Oh yaa, satu lg didikan seorang ibu yang sampai sekarang tak pernah saya lupa, Umi sudah mengajari saya untuk berpuasa Senin Kamis sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan secara tidak sadar mungkin salah satu manfaatnya masih terasa sampai sekarang πŸ™‚ Duduk bangku SMP, prestasi yang saya hasilkan masih belum surut, saat duduk di kelas VIII aku sempat menjadi finalis lomba Karya Tulis Ilmiah di Tingkat Nasional dan lomba itu berlangsung di jakarta. Itulah impian yang saya wujudkan, setelah di sekolah dasar merasakan persaingan lomba di provinsi, di bangku SMP beruntung saya sudah bisa merasakan persaingan lomba di tingkat Nasional ( siswanto banget yaa :3 )

Namun, bukan hidup namanya kalau jalan terus lurus tanpa hambatan. Jalan penuh batu dan belokan sudah menantiku di akhir masa masa duduk di bangku SMP. Ya dibalik prestasi yang aku raih, aku harus jatuh. Nilai Ujian Akhir Nasional yang aku raih saat masih SMP jauh dari standard, bahkan aku terancam untuk tidak mendapatkan sekolah favorit di Tulungagung (kota kelahiran penulis dan domisili saat itu) . Bukan hanya kaget namun saya sempat depresi, bahkan seingat saya waktu itu saya mengunci diri di kamar dan meneteskan air mata πŸ˜€ Orang tua pun tak pernah henti untuk mensupport, bahkan Umi sampai mencarikan info sekolah di luar kota. Entah mendapat bisikan apa, saat itu saya memaksa orang tua untuk mendaftarkan saya di sebuah pondok yang terletak di kota Jombang, Pondok Darul Ulum.

Tak akan pernah ada yang tau itu keputusan yang tepat atau tidak,

Tak akan pernah ada yang tahu itu keputusan yang benar atau tidak,

Namun semua bakal lebih menarik setelah titik kehidupan ini……….

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 26, 2011 in Biografi dan keluarga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: