RSS

Curahan hati dengan sentuhan peran Umi

25 Nov

Menulis sebenarnya bukanlah hobi yang menarik bagi saya, namun seiring waktu yang mendewasakan, semakin banyak pengalaman dan hikmah kehidupan yang menurut saya perlu untuk dibagi dan dituliskan.Yaa, paling tidak saat masa tua nanti, saya masih bisa membaca blog ini dengan anak-anak saya dan istri yang saya dambakan 😀

Wajar kalau saat pertama menulis mungkin bahasa yang saya gunakan msh terlalu formal. Tapi walaupun dengan berbagai macam gaya bahasa, yang penting isi dari coretan coretan ini masih bisa dipahami pembaca 🙂

Ketika menuliskan coretan ini saya sudah duduk sebagai mahasiswa tingkat 3 dari sebuah sekolah kedinasan yang dewasa ini terkenal dengan kasus mafia pajaknya. Seorang yang dilahirkan pertama dari 3 bersaudara tentu memiliki tanggung jawab dan peran yang berbeda. Walaupun kami bertiga dilahirkan sebagai pejantan tangguh alias laki- laki, namun perbedaan umur saya dan adik adik saya begitu jauh. Bagaimana tidak jauh kalau jarak antara saya dan adik adik saya adalah 6 tahun dan 15 tahun. Jadi wajar kalau setiap kejadian atau pengalaman hidup yang saya jalani sering saya simpan dan apresiasikan sendiri. Mungkin banyak kejadian yang terlewatkan dan tidak saya ingat ketika msh kecil. Namun yang saya ingat sejak saya kecil ibu saya selalu mengajarkan untuk rajin belajar dan harus pinter (walaupun sekarang mungkin sebaliknya :D) . Bahkan yang saya ingat ibu sempat menasehati dengan nada tinggi ketika saya malas atau gagal dalam menjawab soal yang diberikan beliau. Maklum ibu saya, adalah seorang Guru teladan dan disiplin 😀 . Mulai dari dkunci di kamar sampai di kamar mandi sudah saya rasakan kok 😀  Ahh, yang penting dari hasil didikan yang diberikan membentuk saya jadi pribadi yang lebih baik 🙂

Bagaimana tidak baik kalau hasil didikan beliau berhasil membantu saya dalam meraih berbagai prestasi. Walaupun prestasi yang saya raih saat masa kecil, tp kan namanya juga prestasi 😀 Kalau saat Taman Kanak-Kanak saya sudah sedikit lupa, tapi ada sedikit dokumentasi dari Umi ketika saya menjadi protokol sebuah acara perpisahan loooo     

Bahkan waktu duduk di Sekolah Dasar, saya sempat menyabet juara 2 siswa teladan se-jawa timur 😀 Yang jelas peran Umi begitu besar dalam mendidik saya ketika saya masih kecil, mungkin tak cukup kalau hanya diungkap lewat kata – kata dan materi. Mungkin Umi sedikit kecewa dengan saya yang sekarang, karena waktu telah mendidik saya untuk belajar dan belajar . Umi pun sadar melihat saya banyak mencoba dan gagal, beliau tak pernah berhenti mendukung dn memberikan dorongan 🙂 Setiap kejadian pasti akan ada hikmah kalau kita mau membuka hati kita. Setiap tindakan dan perkataan dari seorang ibu tak akan pernah membawa kita dalam keburukan, mungkin kadang kita sedikit kecewa, namun jangan sampai kekecewaan itu membuat hati orang yang mulia itu terluka.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on November 25, 2011 in Biografi dan keluarga

 

2 responses to “Curahan hati dengan sentuhan peran Umi

  1. nurulkucingkelinci

    November 26, 2011 at 11:44 pm

    Pertamax..
    Aku juga pernah dihukum bapak, karena emg pas itu nakal banget… 🙂
    Tapi lihat aku sekarang, tanpa orang tua aku ga bakal bisa seperti sekarang ini. Alhamdulillah bgt.. 😀
    Ahh, jadi kangen bapak-ibu.. :’)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: