RSS

Monthly Archives: November 2011

Peran Pemimpin Keluarga

Peran Orang tua selalu berperan besar dalam kehidupan kita…

Peran Ibu sudah sangat besar dalam membentuk karakter kehidupan, namun peran seorang ayah juga tak pernah lepas dalam benak. Pernahkah anda mendengar sebuah lagu yang dilantunkan opick berjudul ‘sedekah’??

Pernahkah anda membaca sebuah buku dari seorang ustadz Yusuf Mansyur tentang keajaiban sedekah’??

Itulah yang terlintas dalam benak ketika mengingat seorang ayah. Harta adalah titipan dan tabungan sesungguhnya adalah ketika kita bersedekah untuk membantu meringankan beban saudara saudara di sekitar kita. Mungkin itulah yang menjadi mindset ayah saya. Beliau tidak pernah ragu untuk memberikan uangnya atau memberikan harta untuk membantu saudara saudara kami yang mebutuhkan. Bahkan dari kecil, saya dan adik adik saya selalu diajarkan untuk berinfaq di masjid setiap kali kami sholat jum’at bersama ๐Ÿ™‚

Dan ketika saya bertanya kenapa harus bersedekah, padahal terkadang kita pun dalam keadaan sempit. Seorang pemimpin keluarga hanya menjawab “Rezeki itu sudah ada yang ngatur, g usah takut habis, Harta lo juga g dibawa mati’ . Subhanallah, saya hanya diam dan tak banyak bertanya lagi. Bagaimana saya mau bertanya, bila keyakinan beliau sudah begitu kuat. Sementara saya, untuk memberi pengemis pun kadang masih berpikir panjang. Terkadang saya malu pada diri sendiri, melihat seorang ayah yang loman*, kenapa sifat baik yang seperti ini justru susah untuk menurun ke anaknya -.-a Terkadang seorang ayah pun menjadi penengah, ketika saya dan ibu sempat berselisih pendapat. Keluarga kami termasuk keluarga yang terbuka, jadi sudah terbiasa bila saling berbagi pendapat, kesenangandan kesedihan antar anggota keluarga ๐Ÿ™‚

Orang yang bersedekah, dekat dengan Allah, dekat dengan surga…

Tak akan berkurang harta yang bersedekah, akan terus bertambah dan bertambah ๐Ÿ™‚

NB : *istilah jawa yang artinya suka memberi

 
Leave a comment

Posted by on November 29, 2011 in Biografi dan keluarga

 

Waktu yang Mengubah Karakter

Kesibukan saat SMA dalam organisasi membuat saya kurang bisa memenuhi nasehat Umi untuk menjaga prestasi akademis. Namun bukan berarti saya menyerah begitu saja, dengan nilai yang masih dibilang lumayan saya mencoba untuk menggantungkan cita cita awal saya. Walaupun setiap kali menggantung, saya selalu terjatuh berulang kali. Tapi kalo inget orang tua dan adek adek saya, sepertinya tidak pantas kalau saya harus duduk meratapi kegagalan.

Ketika kepengurusan OSIS sudah berakhir, saya mulai berpikir manfaat apa aja yang sudah saya peroleh selama sibuk disana. Pengalaman sudah jelas jadi guru yang penting. Keakraban tentu menjadi bumbu yang pas. Kesedihan dan kesenangan pun ikut bercampur di dalamnya. Saya mencoba mencari esensi yang sudah saya dapatkan tanpa memikirkan eksistensi semu. Ternyata pengalaman dalam membentuk sebuah keluarga baru itu sangat penting, melihat sibuknya kerja dalam sebuah organisasi yang tak kenal waktu, tanpa sengaja mereka sudah menjadi sebuah keluarga baru bagi saya. Dan itulah nilai yang selama ini saya pegang dalam berorganisasi, buang jauh jauh pikiran untuk eksis dan individualis, belajarlah memahami tiap orang di organisasi itu, maka selain pengalaman keluarga baru pun akan anda dapatkan ๐Ÿ™‚

Saya yang senang mencoba hal yang baru , berusaha mencari pengalaman yang berbeda ketika lulus SMA. Sempat kesulitan dan depresi dalam menggapai cita, saya berusaha mecari hakekat hidup. Hakekat yang saya harapkan mampu mebuat saya tersenyum dan nyaman walaupun jatuh berkali kali. Teringat kata kata guru SMA, kalau hidup itu ada 2 jenis garis, garis vertikal dan horizontal , vertikal adalah hubungan dengan Tuhan, horizontal adalah hubungan dengan manusia. Yang selama ini sering dipelajari adalah garis horizontal, bagaimana dengan garis vertikal?? Ternyata saya masih minim dalam hal itu. Bahkan sebenarnya hakekat ketenangan ada di dalamnya, hakekat untuk membuat hubungan horizontal pun tertata di dalamnya. Selama ini saya terlalu sibuk di dunia, tanpa memperhatikan yang menciptakan dan menguasai dunia. Masih sibuk memenuhi kehendak, tanpa memperdulikan yang menciptakan kehendak. Wajarlah disuruh ‘mondok’ saja saya masih malas malasan ๐Ÿ˜€ Namun ternyata hati masih dibukakan oleh kuasaNya, di lingkungan kampus yang mendukung dan beberapa teman yang membuat saya kagum, membuat saya belajar lebih dalam garis vertikal. Namun saya jg sadar, saya seorang yang masih labil, kadang sifat asli saya masih kelihatan berbanding terbalik dengan yang selama ini saya prinsipkan ๐Ÿ˜€

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2011 in Biografi dan keluarga

 

Kesan Pertama Tentir Begitu Menggoda

Seperti kata orang, untuk memulai sesuatu yang bukan sebuah kesenangan memang sangat sulit bahkan rasa malas yang menyelimuti membuat niat yang sudah tertata dalam hati menjadi batal ๐Ÿ˜€

Itulah yang sering terjadi dalam diri saya, namun sore ini saya ingin membuatnya berbeda, memulai sesuatu yang bukan kesenangan saya dengan benar benar niat dan sedikit paksaan :p Sore ini menjelang Ujian Tengah Semester Advance Accounting, temen temen sekelas bersepakat untuk tentir atau bisa dibilang belajar bersama dengan dipimpin oleh beberapa teman yang lebih pandai dan mengerti tentang bidangnya. Tentir itulah yang selalu membuat saya malas, malas tentir bukan berarti saya pinter atau mumpuni di bidang tersebut, banyak faktor yang membuat saya tidak pernah mengikuti tentir selama 2 tahun kuliah di STAN. Tapi sebenarnya faktor yang membuat saya tidak pernah tentir karena faktor ‘malas’ :p Sehingga ketika ujian teman teman sudah mulai banyak latihan soal dari tentir saya masih hampa dengan materi dan latihan soal ๐Ÿ˜€ , yaah terpaksa solusi terkahirnya saya ‘menyeret’ teman saya yang pandai untuk memprivat saya ๐Ÿ˜€

Akhirnya tergeraklah hati saya untuk sekali sekali ikut tentir, dan tentir kali ini benar benar diniatkan dan berhasil saya laksanakan ๐Ÿ˜€ Setiap hal yang pertama kita lakukan tentu akan memberikan kesan, begitu juga dengan tentir ini, di bawah pohon yang rindang dan sinar matahari yang ikut menyelinap masuk, saya dan teman teman sibuk menghadap soal soal latihan. Dengan pikiran yang masih kosong tentu saya tidak langsung beranjak menghadapi soal soal, saya masih bersantai dengan tiduran di tikar sambil utak atik handphone ๐Ÿ˜€

Namun ketika teman saya yang pandai sudah mulai mengerjakan soal, saya langsung bangun dan duduk mendekat untuk mendapatkan pencerahan ๐Ÿ˜€ Namanya otak masih hampa, tiap ngerjain soal pun saya selalu tanya macam macam, maklum saja ya sudah tahu besok ujian, tapi kemaren saya malah baru nobar bersama teman teman juventini, jadi materi materi ujian masih tertata rapi ๐Ÿ˜€ Perlahan tapi pasti, saya mencoba mengingat kata kata dosen di kelas dan mencoba pelan pelan mengerti penjelasan teman saya yang pintar. Asalkan niat dan sungguh sungguh ternyata Allah memberikan janjiNya, sedikit demi sedikit materi untuk ujian besok mulai tergambarkan, yaah walaupun mungkin cuman gambar corat coret minimal sudah ada gambar lah buat ngisi besok ๐Ÿ˜€ (Alhamdulillah yaaa…)

Minimal pengalaman tentir pertama sudah dapat sedikit manfaat, Agar manfaat itu semakin mengalir dan bertambah, kita pun harus pandai pandai mensyukuri dan berikhtiar lebih agar sesuai dengan kehendak kita. Namun apapun kehendak kita, yang terjadi hanyalah kehendakNya, ikhtiar, doa dan jangan pernah lupa untuk pasrah dan ikhlaskan hasil hanya kepadaNya :))

 
4 Comments

Posted by on November 27, 2011 in Saudara Perantau

 

Kekonyolan di Dapur dan Kamar Mandi Perantauan

Mencuci piring, membuka kran air, memasang lampuโ€ฆ Ahh, apadeh itu? itu beberapa hal-hal kecil yang ngga ada artinya di kehidupan kita, lakukan lalu lupakanโ€ฆ
Tapi bagaimana bila keadaannya tak ada seorangpun yang peduli dan dengan sukarela melakukannya? Lalu siapakah yang akan melakukannya? Lalu apakah jika semua itu ditinggal begitu saja, keadaan akan jadi lebih baik?

Keadaan menjadi berbeda ketika kita jauh dari orang tua. Di rumah biasanya orang tua yang mengurus semua kebutuhan rumah. Di sini di perantauan ini, kita harus mandiri. Bergerak sendiri!

Di rumah kost

Ketika sendok, piring, mangkok serta barang-barang yang kita butuhkan ternyata kotor. Tergeletak tak berdaya di wastafel. Biasanya kita akan mencari siapa orang yang telah memakainya untuk mencucikannya. Bukankah itu hal yang konyol? Lakukan sedikit perubahan. Entah itu bekas siapa, cuci semuanya tanpa pilih-pilih sampai bersih. Entah di rumah ada pembantu, setidaknya kita membiasakan diri melakukan semua itu sendiri. Kita tak tahu kapan lagi kita bisa melakukannya lagi.

Selalu ketika di rumah dulu, ayah bilang untuk membuka kran air ketika saya sedang memakai kamar mandi. Pastikan selalu penuh ketika kita usai memakainya. Dengan begitu orang lain yang memakainya setelah kita siap menggunakan tanpa harus dia mengisi bak air dulu. Pernah ketika saya ditinggal ayah ibu ke luar kota, beliau mengatakan,โ€Pastikan bak kamar mandi selalu penuh, itu akan mendatangkan rezekiโ€. Bukan bermaksud menyekutukan Allah, tapi secara logika itu nyambung kok.

Dan saya pun mengaplikasikannya di rumah kost. Meskipun berulang kali ketika saya masuk kamar mandi, air di bak selalu habis, entah siapa yang telah menghabiskannya, saya tetap mengisinya dengan โ€˜hanyaโ€™ membuka kran. Pokoknya setiap keluar air di bak harus penuh.

Bukankah itu hal yang konyol?

Tiba-tiba lampu kamar mandiย  mati. Anak-anak sekosan pun heboh tak terkendali. Sampai dua hari tak ada perubahan. Terpaksa selama itu kami menggunakan kamar mandi dalam aura kegelapan. Hati kecil seseorang pun akhirnya tergerak. Dia mengambil lampu cadangan di kamarnya dan memasangnya sendiri. Setelah itu anak yang lain bisa memakai kamar mandi seperti biasa. Tanpa tahu, siapa yang telah memasangnya. Tanpa peduli itu pakai lampu siapa. Padahal kamar mandi itu untuk umum satu kostan. Biasanya harus patungan dulu buat beli lampu. Kali ini tidak. Bukankah itu hal yang konyol?

Sebenarnya itu hal-hal kecil banget. Karena kecilnya itu banyak orang yang tak peduli dan tak mau tahu siapa yang melakukannya. Anggap itu semua ladang amal. Bukankah jika kita beramal lebih baik secara diam-diam? Setuju?

 

Note:

Terima kasih buat mbah kukuh yang membolehkan cucunya menulis di blog barunyaโ€ฆ xD
Maklum saja artikel ini diluar tema blog saya jadi numpang boleh kan mbah?hehe

Oia, maaf kalo artikelnya kurang mantap seperti punya embah. Dimaklumi sajalahโ€ฆ fufufu *maksa
Saya kagum lo sama mbah yang punya jiwa menulis yang kuat sampai-sampai lahir deh blog ini. Alhamdulillah yah..
Semoga blog ini bisa tepat sasaran dan bermanfaat seperti keinginan embah semula. Amin -> Doa seorang cucu yang jahilโ€ฆhehehe

by: http://nurulkucingkelinci.wordpress.com/

 
5 Comments

Posted by on November 27, 2011 in Saudara Perantau

 

Sekolah Akademis atau Sekolah Agama??

Sambil nunggu nobar lazio vs juve bareng temen temen juventini STAN mungkin lebih baik lanjut corat coret ๐Ÿ˜€

Mungkin benar kata orang, masa SMA adalah masa yang berkesan dalam perjalanan hidup, namun sebenarnya ketika kita memaknainya setiap periode atau masa pasti mempunyai kesan tersendiri yang tak terlupakan ๐Ÿ™‚ Yaa, jujur saja saya termasuk orang yang berkesan dengan pengalaman SMA, proses untuk masuk, saat belajar di SMA dan saat lulus pun semua meninggalkan cerita yang membuat dahi berkerut ataupun senyum melebar ๐Ÿ˜€

Dimulai dari proses masuk yang susah lantaran danem saya yang rendah, saya sempat mencoba untuk masuk sebuah sekolah pondokan di Jombang, Darul Ulum. Ketika itu syarat untuk mendaftar di sebuah sekolah favorit Tulungagung cukup menyerahkan ijazah, sementara di jombang harus melalui serangkaian tes IQ dan tes wawancara. Karena sudah membulatkan tekad, saya berangkat ke Jombang untuk mengikuti tes di Jombang dengan berbekal persyaratan daftar ulang dan minimnya pengalaman agama ๐Ÿ˜€ Sebenarnya saat itu saya ditemani teman saya yang sudah berpondok di Jombang 3 tahun, namun karena masih anak baru terang saja kaget akan suasana pondok. Sholat Subuh yang di rumah biasanya baru dimulai pukul 05.00, dsini para santri dituntut untuk bangun ontime sesuai dengan adzan subuh. Dan seorang ustadz yang disiplin sudah siap membangunkan para santri dengan membawa pemukul ๐Ÿ˜€ Namun untungnya selama disana saya masih konsisten untuk mengikuti aturan :p

Tes tahap pertama yaitu tes IQ berjalan lancar, namun tes kedua yaitu tes wawancara saya sempat diberikan bocoran teman bahwa akan diberikan tes membaca al-qur’an dan menulisnya. Klo membaca itu sudah biasa, namun klo menulis ayat al-qur’an tanpa mengutip?? nyerah deh -.-” Akhirnya saya berinisiatif untuk menghafal penulisan salah satu surat pendek, yaitu surat al-ikhlas ๐Ÿ˜€ Begitu tes wawancara dimulai, nervous pasti namun yang namanya rezeki emang g kemana ๐Ÿ˜€ Eh, pewawancara langsung ngetes buat nulis surat al-ikhlas, spontan saya tersenyum lebar dan langsung menulis dengan lancar ๐Ÿ˜€

Seusai tes yang saya jalani, saya sempat hidup di pondok ini kurang lebih 3-4 hari , lumayanlah buat pesantren kilat ๐Ÿ˜€ Mungkin tes bisa lancar, namun pikiran saya masih melayang ke kampung halaman. Terus terbayang dengan danem atau nilai UAN yang serendah itu bisa ga ya ketrima d sekolah favorit….. Jujur saja kehidupan di pondok waktu itu belum membuat saya tertarik, maklum saja saya termasuk orang yang tidak ingin dibatasi dalam tembok. Apalagi setiap kegiatan harus diatur waktunya untuk akademis dan agama, belum lagi untuk hobi saya seperti sepak bola.

Beberapa hari semenjak tes itu berakhir dan pengumuman penerimaan sekolah di Tulungagung telah diputuskan,ย  Saya benar benar kebingungan. Allah menunjukkan kuasaNya, saya diterima di sekolah pondok Jombang dan sekolah favorit Tulungagung (walaupun dengan danem 5 besar terbawah :D) , banyak masukan dari keluarga dan teman yang memberikan komentar positif dari kedua sekolah tersebut. Setelah semedi dan merenung akhirnya saya memutuskan sekolah di kampung halaman sajaย  , Pikiran saya masih menuju ke akademis dan ingin hidup bebas ๐Ÿ˜€

Berbekal pemikiran pintas untuk memilih akademis dan kebebasan, apakah akan menghasilkan sesuatu yang istimewa nantinya??

Berbekal pemikiran pintas untuk akademis dan kebebasan, apakah memberikan perbedaan dalam hidup saya??

Hanya Allah yang tahu jawaban dari pilihan saya ๐Ÿ˜€

 

 
Leave a comment

Posted by on November 27, 2011 in Biografi dan keluarga

 

Coretan awal tahun….

Akhir pekan selalu menjadi kepuasan lahir dan batin buat saya. Habiskan waktu dalam dunia futsal dan badminton membuat saya mampu menghilangkan penat setelah aktivitas Ujian Tengah Semester. Namun akhir pekan kali ini bukan sembarangan loo, akhir pekan kali ini dibarengi dengan Tahun Baru Hijriyah 1433H. Bahkan perayaannya pun tampak pagi hari tadi ketika banyak sekolah – sekolah islam yang melakukan pawai kendaraan melintas di jalan raya depan kosan. Senangnya mereka yang masih usia muda sudah bergembira dengan datangnya Tahun baru Hijriyah ๐Ÿ™‚

Berbeda dari mereka yang tampak senang, ba’da magrib ini justru saya merasa sedih dan menyesal. Sudah memasuki tahun baru, namun kebaikan yang saya lakukan dari tahun ke tahun justru terlihat belum signifikan. Sudah berapa tahun yang hanya saya lewatkan tanpa introspeksi, sudah berapa tahun yang hanya saya lewatkan tanpa perbaikan. Memang kadang perlu dimaklumi ketika iman seseorang naik turun, namun kalau selalu melakukan kesalahan yang sama apakah itu bukan sebuah kerugian yang besar??

Terlalu panjang kalau dijabarkan setiap kesalahan yang telah saya perbuat, dan mungkin kebaikan pun tidak mampu menutup keburukan itu. Hanya ampunan dan kemurahan dariNya yang sekarang bisa saya harapkan untukย  lebih mantab menatap tahun baru. Berdoa semoga hati ini selalu dihidupkan, selalu diteguhkan iman, dan selalu diberikan kenikmatan bersujud kepadaNya…Amiiin…

 
2 Comments

Posted by on November 26, 2011 in Cerita Hidup

 

Titik perjalanan panjang baru dimulai….

Kehidupanku tak hanya berhenti saat aku duduk di sekolah dasar, berlanjut ke tingkat Sekolah Menengah Pertama dan masih dengan hasil didikan yang disiplin dari seorang Umi. Membuat motivasiku seolah semakin tinggi untuk terus menggapai prestasi. Maklum saja, saat masih kecil aku termasuk siswa yang rajin mengambil waktu luang untuk mengerjakan tugas, dan sisa waktu yang ada aku gunakan untuk bermain bola di lapangan dekat rumah. Pada masa inilah aku mulai menjamah lingkungan rumah dan mulai dikenal sebagai anak yang ‘getol’ maen bola sepak ๐Ÿ˜€

Walaupun sore hari sibuk di lapangan, namun malam hari selalu Umi mengingatkan untuk belajar dan belajar. Antara rasa takut dan menuruti nasehat Umi, tanpa pikir panjang tiap malam aku sempatkan untuk mengerjakan soal latihan. Oh yaa, satu lg didikan seorang ibu yang sampai sekarang tak pernah saya lupa, Umi sudah mengajari saya untuk berpuasa Senin Kamis sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan secara tidak sadar mungkin salah satu manfaatnya masih terasa sampai sekarang ๐Ÿ™‚ Duduk bangku SMP, prestasi yang saya hasilkan masih belum surut, saat duduk di kelas VIII aku sempat menjadi finalis lomba Karya Tulis Ilmiah di Tingkat Nasional dan lomba itu berlangsung di jakarta. Itulah impian yang saya wujudkan, setelah di sekolah dasar merasakan persaingan lomba di provinsi, di bangku SMP beruntung saya sudah bisa merasakan persaingan lomba di tingkat Nasional ( siswanto banget yaa :3 )

Namun, bukan hidup namanya kalau jalan terus lurus tanpa hambatan. Jalan penuh batu dan belokan sudah menantiku di akhir masa masa duduk di bangku SMP. Ya dibalik prestasi yang aku raih, aku harus jatuh. Nilai Ujian Akhir Nasional yang aku raih saat masih SMP jauh dari standard, bahkan aku terancam untuk tidak mendapatkan sekolah favorit di Tulungagung (kota kelahiran penulis dan domisili saat itu) . Bukan hanya kaget namun saya sempat depresi, bahkan seingat saya waktu itu saya mengunci diri di kamar dan meneteskan air mata ๐Ÿ˜€ Orang tua pun tak pernah henti untuk mensupport, bahkan Umi sampai mencarikan info sekolah di luar kota. Entah mendapat bisikan apa, saat itu saya memaksa orang tua untuk mendaftarkan saya di sebuah pondok yang terletak di kota Jombang, Pondok Darul Ulum.

Tak akan pernah ada yang tau itu keputusan yang tepat atau tidak,

Tak akan pernah ada yang tahu itu keputusan yang benar atau tidak,

Namun semua bakal lebih menarik setelah titik kehidupan ini……….

 
Leave a comment

Posted by on November 26, 2011 in Biografi dan keluarga