RSS

Jawaban itu Gibran

Pertanyaan yang terlontar dari seorang anak kecil dengan usia 6 tahun terjawab sudah, butuh waktu 3 tahun untuk menjawab sebuah pertanyaan.

1473684883736

Sebuah jawaban dari semua doa dan ikhtiar,

 

Sebuah jawaban yang menjadikan babak baru dalam kehidupan

 

Sebuah jawaban yang membuat alasan baru itu muncul,

 

Sebuah kata yang menjawab banyak pertanyaan, Gibran…….

Banyak cerita yang tertinggal sebelum terjawab nama Gibran, kelas baru dalam jenjang kehidupan sudah dibuka. Tak banyak pesan Bapak untukmu Nak ,

 

“Jadilah orang yang mengerti dan banyak memberi”
Selamat datang anaku, dunia barumu dengan Ayahmu dimulai dari kelas Purnawarman 🙂

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2016 in Uncategorized

 

Rezeki itu….

Rezeki itu tidak bisa ditiru

Walaupun sama yang kita usahakan

Walaupun sama yang kita jual belikan

Dan walapun kita berada dalam profesi yang sama

Hasil yang kita terima akan berbeda beda

Perbedaan mungkin terdapat pada banyaknya harta yang kamu kumpulkan

Namun ada juga dalam wujud kenyamanan hati

Banyak yang menyebutnya Bahagia………

Semua itu merupakan wujud kasih sayang Tuhan

Mereka yang sungguh sungguh akan menemukan apa yang mereka cari

Mereka yang berani berkorban lebih akan menuai derajat yang lebih tinggi

Bukan pada jumlahnya, namun berkah yang membuatnya cukup dan merasa tercukupi

Sudah tergaris dalam kehidupan manusia, dalam menjalani kehidupan sebenarnya kita sudah mendapatkan bekal dari Tuhan

Jalan dan kebutuhan hidup sebenarnya sudah siap di sekitar kita, layaknya udara yang kita hirup selama ini

Namun kadang manusia gelap mata dan hati, yang masih jauh terlihat lebih indah dan meyakinkan padahal hal hal yang berada di sekitar kita yang masih menjadi tanggung jawab, disia siakan seolah tidak memiliki makna

Rezeki itu sudah disiapkan oleh Tuhan, tak akan bekurang secuil pun kalau hanya untuk mencukupi kebutuhan dari kita lahir sampai mati

Namun kalau untuk mencukupi keinginan kita yang tiada batasnya, semuanya terlihat sedikit, pikiran semakin sempit dan hati semakin gelap

Mereka yang lebih dahulu dibanding kita, sering berpesan, Jalani apa yang ada dan apa yang belum ada jangan terlalu diharapkan berlebihan, tenangkan dan buka sejenak hati kita,

“Jika sesuatu itu memang hak kamu, maka sesuatu itu akan datang kepadamu dan menjadi milikmu, Jika bukan hakmu apalagi merebut hak orang lain dengan cara yang buruk, hanya akan membuat hidup sengsara, semua akan lenyap, dan kembali sesuai dengan yang semestinya”

“Jika kenyaman itu hanya bisa dibeli dengan kekayaan, betapa hina dan sengsaranya orang tanpa harta, Untungnya kenyamanan bisa dimiliki siapa saja yang mau sejenak meletakkan hatinya dari dunia, mengulurkan tangan kepada saudaranya dan memasrahkan hasilnya kepada Tuhan”

Dikutip dari Budayawan Jawa Ronggo Warsito

Dalam kondisi tertentu, biarkan rasa nyaman itu terus disamping kita 🙂

Selamat berbahagia 🙂

 
 

Tags: , , ,

Aside

Jalan MamasaPerjalanan 10-12 jam dari kota Makassar memang terlihat melelahkan. Terlebih kita harus berganti kendaraan dua kali sebelum sampai di kelas baru ini, kelas Mamasa. Kalau dalam cerita sebelumnya, saya bercerita tentang banyaknya ‘kolam lele’ di jalan, sepertinya lebih cocok kalau cerita kali ini bercerita tentang Ramadhan. Yaa kali ini Ramadhan pertama, di kelas Mamasa. Rasa keingin tahuan ini terus memaksa saya mengerti dan menikmati suasana kelas baru, apalagi di bulan yang menurut orang muslim bulan yang istimewa.

Berbicara soal Ramadhan tentu tidak luput dari puasa dan sholat tarawih. Puasa merupakan sebuah ibadah yang sangat menjunjung tinggi kejujuran, bayangkan saja, yang tau kalau kita benar benar berpuasa hanya kita dan Tuhan. Selain puasa, bulan Ramadhan memberikan kesempatan kita untuk menghidupkan suasana malam dengan sholat tarawih. Kesempatan inilah yang saya gunakan untuk menyaksikan budaya di kelas baru ini.

Sarung sudah terbelit di perut, peci sudah menempel di kepala, pakaian dan jaket sudah menutupi tubuh yang gemetar, Kelas baru yang saya tempati ini, memiliki suhu udara yang jauh berbeda dari kelas kelas yang sebelumnya. Di gunung tiap sore hampir pasti hujan, walaupun hujan yang turun hanya sebatas menyirami halaman depan kelas. Motor yang terparkir dluar saat malam hari, dalam beberapa menit kaca spion sudah tertutup embun.

Tarawih di kelas baru ini sedikit berbeda, sebelum pelaksanaan sholat tarawih, adzan isya mundur sekitar 30-40 menit, kemudian setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, ada MC yang selama dua hari ini seorang wanita membacakan susunan acara. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, kemudian dilanjut dengan kultum (Kuliah Tujuh Belas Menit) , selanjutnya diisi dengan penyampaian panitia persiapan buka puasa di masjid, dan terakhir dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah. Beda daerah beda budaya, dengan budaya seperti ini, Masjid Besar Mamasa ini terlihat sangat menghidupkan malam bulan Ramadhan terbukti dengan penuhnya barisan sholat oleh jamaah laki-laki maupun perempuan.

Ramadhan setiap tahunya selalu memberikan kesan yang istimewa. Biasanya saat berbuka puasa, Ibu yang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, atau mungkin tinggal ambil dompet jajan makanan diluar. Di kelas baru, kita memasak dan menyiapkan sendiri masakan yang akan kita santap untuk berbuka. Begitu juga saat sahur, kalau mungkin di rumah ibu yang biasanya bangun lebih awal menyiapkan makan sahur, sekarang kita yang harus bangun lebih awal menyiapkan makan sahur.

Sesuatu memang terasa lebih berarti ketika sudah menghilang dari rutinitas kita, sesuatu yang kadang kita anggap biasa, ternyata akan sering kita rindukan di tempat yang baru. Namun bukan berarti peluh dan penyesalan yang akhirnya muncul, justru dari situ nantinya kita mulai belajar menghargai dan mensyukuri hal hal yang kecil.

Selamat ‘berlomba’ meramaikan Ramadhan di tahun 2014 ini, penulis memohon maaf atas setiap kata maupun kalimat yang menyinggung perasaan pembaca 🙂

Kelas Mamasa (2)

 
Leave a comment

Posted by on June 29, 2014 in Cerita Hidup

 

Kelas Mamasa (1)

Mamasa 2014Seolah-olah tak mau dipilih sesuka hati, hidup selalu punya jalanya sendiri. Berbeda ketika kita berpergian, mungkin kita sudah hafal jalan yang kita lintasi, yaa minimal kita sudah berbekal sedikit pengetahuan tentang jalan dan tujuan yang akan kita lalui. Tapi hidup? Urusan yang satu ini jauh berbeda, beruntung bagi kita yang menyukai sebuah kejutan.

Hidup sepertinya juga mempunyai sebuah ‘kelas’. Tingkatan kelas biasanya melalui sebuah ujian. Berbicara ujian terlalu sempit jika mengacu pada ujian di sekolah, ujian hidup jauh berbeda dari ujian sekolah. Kelulusan tidak memerlukan patokan layaknya Ujian Nasional. Kita sendiri yang langsung mengoreksi dan menilai kelulusan dan kenaikan ‘kelas’ hidup.

Memasuki kelas kehidupan baru, sebuah kelas yang saya pun tak pernah terbayang sebelumnya. Sebuah kelas yang bahkan saya masih buta akan mata pelajaran dan pengajarnya. Berbekal sebuah pendidikan kedinasan yang menjanjikan pekerjaan tetap sebagai seorang abdi, selembar Surat Keputusan membuat saya duduk dalam kelas Mamasa. Lebih banyak yang berbicara negatif soal kelas baru ini. Bermodalkan kenyamanan dan kemantaban hati, saya memutuskan mencoba mempelajari kelas

Kelas Mamasa, kesan yang pertama kali muncul ketika memasuki kelas ini “berlubang”, Banyak lubang yang harus ditutup di kelas ini. Saat hujan, lubang ini tertutup oleh air, membuat lubang yang tergenang oleh air ini terlihat seperti kolam lele. Tanpa disadari tanah yang kita injak ini terkadang ikut longsor, batu yang sebesar honda jazz bahkan pernah turun dari langit.

Kelas baru, biasanya berjejer jejer ‘kantin’ yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Namun kantin disini berbeda dari beberapa kelas yang pernah saya lalui. Kantin lebih menyediakan makanan yang tidak saya sukai, beruntung karena saya tidak suka maka agama sudah melarangnya. Yaa, di kelas Mamasa ini ada pelajaran baru yang saya dapatkan, pelajaran memasak. sebuah pelajaran yang selama ini menurut saya lebih banyak dipelajari kaum hawa. Masalah rasa bukan prioritas utama, udara dingin di ruangan kelas Mamasa membuat makanan sering terlihat lebih enak.

Hati juga butuh tempat, sayangnya di kelas Mamasa tempat yang memberikan kenyamanan dan ketenangan hati itu sedikit lebih jauh. Berbeda kalau sebelumnya bisa ditempuh dengan jalan kaki, kali ini harus ditempuh dengan kendaraan. Mungkin sekitar 2-3 km dari kelas. Sebuah tempat yang lebih sering menjadi tempat pelarian dari carut marutnya dunia, sebuah tempat yang lebih sering menjadi tempat mengadu dan meminta, sebuah tempat yang memberikan kenyamanan batin luar biasa.

Kelas Mamasa, Sebuah tempat baru dengan hal hal yang baru, sebuah kelas baru dengan teman dan saudara baru

Ketika hati itu menunjukkan peranya yang benar, kita cukup menikmati peranya dengan kenyamanan dan ketenangan yang kita rasakan 🙂

Selamat belajar sahabatku!!

 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2014 in Cerita Hidup

 

Tags: , , ,

Pertanyaan Seorang Anak 6,5 Tahun

ImageLiburan yang paling menyenangkan itu bersama keluarga dan sahabat sahabat terdekat kita. Nyaman ketika mereka bersama kita, dan beban beban rutinitas itu seperti lenyap. Banyak hal hal kecil yang menarik untuk dibagi, seperti halnya percakapan saya dengan seorang anak berusia 6, 5 tahun. Orang – orang menyebutnya anak saya, tapi bocah innocent ini adalah adik kandung saya sendiri -.-“

Usia 6 tahun mungkin merupakan usia dimana seorang anak ingin tahu jawaban setiap pertanyaan dan kejadian yang dia lihat. Berusaha ‘ ngeles’ seperti apa juga pasti dikejar sampai si bocah merasakan kepuasan. Kita yang harus pandai pandai menata bahasa agar mudah dicerna dan dipahamai oleh anak.

Tepatnya kemarin malam, sekitar pukul 20.00 . Adik berumur 6,5 tahun dan saya duduk manis depan televisi yang menayangkan film Spiderman. Tiap nonton televisi dia selalu berkomentar atau bernarasi tentang cerita yang dia lihat, tapi malam ini beda. Tiba tiba dia nyeletuk bertanya,

Adek : Mas, sampeyan kapan nikah?

Saya : …..(Kaget bingung mau jawab apa)

Adek : Maaaas, ditanyain kok diem. Sampeyan kapan nikah?

Saya : Kenapa emangnya dek? Mas nunggu penempatan dulu

Adek : Emang kapan penempatan? Masih lama ye?

Saya : Nggak tau, masih nunggu pengumuman

Adek : Kok nggak tau? Berapa minggu lagi mas?

Saya : Nggak tau deeeek (mulai gregetan)

Adek : Aku pengen adek o maas 😦

Saya : ………..

Adek : Ndang nikah to mas, aku pengen punya adek o, katanya kalau aku minta ibuk, ibuk  udah tua udah nggak bisa punya adek, aku minta mas kukuh aja yang udah kerja yaa

Saya : (menelan ludah) Lhoo kok mintanya ke mas to dek, coba tanya mas Adi

Adek : Mas adi lho masih SMA, mesti sama ibuk nggak boleh nikah, mas kukuh aja yang udah kerja, nanti aku dikasih adek 😀

Saya : Uda malem dek, bobok gih besok sekolah 😀

……………………………………………………………………………………………………………………….

Pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah saya pikir bakal muncul dari anak berumur 6,5 tahun. Simpel cara dia bertanya, tapi cara menjawabnya membuat seorang mesti berpikir agar jawaban mudah dipahami si anak. Saya juga heran, seorang anak umur 6,5 tahun  sudah mengerti untuk mempunyai adik harus melalui tahapan menikah. 

Seperti alat perekam yang sudah menyala, anak ini sudah siap merekam setiap percakapan dan perbuatan. Bahkan ketika kita memberikan janji, sampai kemana juga pasti akan dikejar dan dituntut untuk memenuhinya. 
Siapa lagi yang akan dijadikan teladan kalau bukan orang yang di sekitarnya 🙂

 

 

 

 
2 Comments

Posted by on April 24, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Kenapa harus wirausaha?

Image

Setelah lama menghilang, ternyata dunia tulis – menulis masih menarik untuk dilakukan. Sibuk dalam rutinitas, membuat seseorang melupakan hobi dan keasyikan dunia yang sempat dibangun dari awal. Bagaimana tidak lupa, jika jebakan rutinitas itu mengambil waktu anda dari pagi hingga malam. Ah, sudahlah apapun rutinitasnya sebaiknya Tuhan selalu menempati posisi lebih baik dalam keseharian.
Sudah 4 bulan absen, sebenarnya banyak yang ingin tertuang dalam halaman. Namun sepertinya topik kali ini lebih menarik sahabat. Sebenarnya, dididik dalam sebuah lingkungan seorang pegawai membuat jiwa karyawan ini lebih terbangun. Materi untuk memimpin dan dipimpin selalu terselip. Aturan dalam pakaian dan tingkah laku bahkan tertulis lengkap dan detail. Yaa semua harus sesuai prosedur

Bagaimana dengan wirausaha? Apa wirausaha tidak memiliki prosedur? Apa wirausaha tidak memiliki aturan? Dengan jelas saya jawab punya. Sebuah usaha tidak akan berjalan baik tanpa prosedur dan aturan yang baik. Namun dalam wirausaha kita dituntut lebih fleksibel dan inovatif. Diam sambil menunggu durian jatuh bukan tipe seorang wirausaha, seorang wirausaha lebih memilih bergerak dan terus bergerak. Ketika seorang mulai berhenti dalam sebuah balapan, pengemudi lain sudah pasti akan melesat lebih cepat dan meninggalkan yang lain. Berbagai tantangan untuk memperluas wawasan sudah menanti dalam dunia wirausaha. Menutup pikiran hanya akan membuat semakin terpuruk, bahkan seharusnya tangan ini dituntut untuk terbuka dan menjalin kerja sama. Beberapa orang dituntut untuk membunuh gengsi. Gengsi tidak akan membuat kaya, gengsi hanya membuat keadaan merana. Dunia ini menuntut kita untuk belajar, selama seseorang masih belajar seharusnya seseorang tidak akan berhenti.

Orang bilang hidup ini pilihan, hidup sesuai pilihan atau hidup dalam pilihan orang lain? Kita tak akan pernah mengerti kalau tidak belajar, Manusia belajar dari waktu dan pengalaman, itupun jika ia mampu mengalahkan egonya . Wajar jika manusia mengalami kenaikan dan penurunan, segera cari pengungkit yang tepat ketika kita turun satu tingkat 🙂

 

 
1 Comment

Posted by on April 11, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Asyiknya Saling Senggol

commuterUdara pagi mulai terusik asap angkutan umum yang berlalu lalang mengambil penumpang.  Suara klakson mulai bergantian dibunyikan beriringan dengan umpatan sopir. Beberapa penumpang bergantian naik turun angkutan yang mulai ngebut menjelelajah kota metropolitan. Angkutan hanya sebagai pelengkap transportasi antar kelurahan, Commuter Line atau KRL merupakan transportasi anti macet yang lebih dinikmati masyarakat kota ini. Tak peduli berjubel sampai ratusan orang, tak peduli sampai harus saling sikut, “ Yang penting gue nyampe kantor nggak telat, mas” celetuk salah seorang yang sudah terlihat resah melihat jam tanganya.

Sebenarnya saya miris sekaligus takjub melihat keadaan alat transportasi yang satu ini. Bagaimana nggak miris kalau tiap jam kerja jarak antar penumpang hanya kulit, saling senggol dan sentuh sudah dianggap biasa. Namun saya juga takjub, melihat mereka yang rela naik di atas atap gerbong kereta. Mereka tak terlihat takut, beberapa justru saling melempar gurauan. Seringkali otak ini berandai andai ingin ikut meramaikan atap gerbong KRL sambil menikmati sepoinya angin kota metropolitan.

Berbicara soal senggol dan sentuh, banyak cerita menarik yang bisa kita nikmati. Wanita selalu jadi pemeran utama dalam cerita ini. Kaum hawa ini selalu menjadi candu bagi lelaki. Candu yang membuat lelaki terbang dalam balutan pelangi atau candu yang membuat laki laki diam tak berkutik. Lupakan soal candu, kaum hawa yang satu ini sedikit kurang beruntung. Berpakaian rapi dan tampil menawan mengundang lirikan pria. Aroma yang ditabur bahkan melebihi wangi bunga. Melangkah masuk dalam KRL yang sesak penumpang sudah lumrah dong, pikirkanya hanya fokus bahwa kantor sudah menunggunya. Banyak kejadian tak terduga dalam kereta yang sesak penumpang, saat keluar dia hanya protes kepada petugas stasiun transit, “ Pantat gue berasa anget, pas gue pegang,eh rok gue udah basah m cairan kentel warna putih “  Kaum hawa ini jadi korban masturbasi kaum adam!!

Lupakan soal cairan warna putih dan kental, cerita ini juga lebih menarik. Setting yang masih sama dalam sebuah KRL atau Commuter Line. Pemeran utama masih seorang kaum hawa, namun kali ini didampingi sekitar 10 kaum adam. Berdiri nyaman di tengah kerumunan lelaki, tak terbesit dalam pikiranya kejadian buruk akan terjadi. 10 orang laki laki bertampang baik itu mengerumuninya, beberapa pasang mata meliriknya, beberapa tangan mulai nakal menggerayangi bagian tubuh kaum hawa. Kaum yang berasal dari potongan tulang rusuk ini hanya diam, dan mencoba mengatakan kepada beberapa pria untuk menghentikan perbuatanya. Pernah mendengar ketika laki laki sudah dirundung birahi maka 1/3 akalnya hilang?? Mungkin ini salah satu wujudnya, kaum adam hanya tertawa dan sebagian dari mereka justru menutupi perbuatan bejat itu. Wanita itu hanya bisa keluar meninggalkan kereta dan mengadu kepada petugas.

Jakarta, sebuah kota dengan beragam wujud manusia berkumpul disini. Ribuan manusia berbaur dan beraktivitas melawan kerasnya hidup. Saya tak tahu harus berkomentar apa atas kejadian tersebut. Saya hanya tak habis pikir, secetek itukah moral mereka. Kalau memang sudah nafsu membelenggu kenapa harus dilampiaskan di transportasi umum. Banyak daerah prostitusi yang masih buka kok di kota sebesar jakarta. Bagaimana jika wanita itu istri anda? Bagaimana jika wanita itu ibu anda? Bagaimana jika wanita itu anak anda? ….Ahh, yang penting perut kenyang birahi terpenuhi….

Ketika kaum hawa dibela, kaum adam tentu ikut protes,..“ Salah sendiri make baju yang bikin nafsu”

Kaum hawa juga pasti membantah, “Yee, mata lo aja tuh yang jelalatan”

Jadi bingung kan siapa yang mau disalahin,hehe…

Padahal pemerintah juga sudah membuat berbagai solusi dengan menyediakan gerbong kereta khusus wanita. Seharusnya kita sadar orang timur selalu menjunjung tinggi moral dan sopan santun. Orang tak beragama seharusnya masih mengenal pancasila. Jangan berpikir setiap perbuatan akan berdampak kenikmatan. Setiap perbuatan yang membuat saudara kita kecewa dan sakit, Dia sudah menghitung dan menyiapkan imbalanya kok, hanya tinggal tunggu waktu. Saudara juga tak harus selalu berhubungan darah kan 🙂

Aah yaa, sebenarnya tulisan ini pengenya diposting hari ibu, apa daya baru terposting sekarang. Semoga bermanfaat 🙂

 
Leave a comment

Posted by on December 30, 2012 in Cerita Hidup